Di era perkuliahan yang serba daring, kebutuhan mahasiswa tidak lagi hanya sebatas mencari makanan murah di kantin atau kopi instan pengusir kantuk. Ada hal yang jauh lebih mendesak, yaitu koneksi internet atau sinyal yang stabil. Tanpa sinyal yang memadai, kelas virtual hanya menjadi wacana dan tugas kuliah sulit diselesaikan tepat waktu.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023, menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet dan mahasiswa termasuk kelompok pengguna paling aktif. Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat banyak aspek perkuliahan terdigitalisasi. Mulai dari pembuatan dan pengumpulan tugas, bukti kehadiran, hingga pertemuan kelas. Dengan kata lain, internet telah menjadi semacam sumber energi baru bagi dunia kampus. Namun, akses internet masih dinilai belum merata. Ketimpangan jaringan masih menjadi penghalang utama pembelajaran daring, terutama di negara berkembang, seperti Indonesia. Mahasiswa yang tinggal di daerah pelosok masih kerap menghadapi kesulitan memperoleh sinyal yang baik.
Karena itu, muncul berbagai kisah perjuangan mahasiswa yang berburu sinyal. Ada yang rela duduk di pelataran minimarket demi Wi-Fi gratis, ada yang bertahan di kampus hingga matahari terbenam untuk mengerjakan tugas, bahkan ada yang berpindah-pindah dari kafe ke masjid demi mencari titik koneksi terbaik. Tidak jarang pula mahasiswa bertahan di pinggir jalan hanya untuk memastikan file tugas terkirim tepat sebelum tenggat waktu. Situasi ini menunjukkan bahwa bagi mahasiswa, internet dirasa lebih penting daripada sepiring nasi.
Namun, di balik drama itu tersimpan sisi positif, yaitu mahasiswa menjadi lebih tangguh dan kreatif dalam mencari solusi. Selain itu, solidaritas juga mengalami pergeseran wajah. Jika dulu berbagi catatan, kini berbagi hotspot atau password Wi-Fi kos. Hal ini menyoroti bagaimana pemanfaatan teknologi pendidikan mampu menumbuhkan kolaborasi serta melatih daya adaptasi pelajar.
Akhirnya, perjuangan mencari sinyal bukan sekadar cerita lucu atau keluhan sepele. Ini adalah gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi era digital dengan semangat pantang menyerah. Meski terkadang koneksi bikin frustrasi, tetapi mahasiswa tetap berusaha bertahan demi nilai, demi masa depan, dan tentu saja demi sinyal. (AI/SZA)
You may also like
Mengerjakan Tugas Sambil Minum Kopi atau dalam Keheningan? Mana Tempat yang Paling Membuat Produktif?
Lima Tips Praktis Foto Menggunakan Handphone agar Feed Instagram-mu Jadi Lebih Hidup
Mahasiswa Wajib Tahu! Ini Dia Tips Traveling Low Budget Antiribet
From Straw Hats to Street Protests: What the One Piece Flag Tells Us About Civic Expression
Suasana Baru Perayaan HUT ke-80 RI Menuju Indonesia Maju