Setiap kota besar hidup dengan ritmenya sendiri. Ada saat-saat ketika ia berlari cepat seolah tidak memberi kesempatan untuk bernapas dan ada pula momen ketika ia terasa lebih lunak serta lebih manusiawi. Di antara irama yang tidak menentu itu, para pelari, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, menemukan ruang untuk memiliki kembali diri mereka. Menariknya, ruang itu tidak selalu hadir di jam-jam lazim. Ada yang memilih berlari saat matahari baru naik dan ada pula yang justru mulai langkah ketika sebagian besar penduduk kota bersiap untuk tidur.
Pagi hari memiliki atmosfer yang sulit digantikan. Pukul 05.00 pagi ketika lampu jalan baru padam dan udara masih dingin, kota terasa seperti membuka lembaran baru. Udara masih segar dan belum tercampur padatnya kendaraan yang akan menguasai jalan. Di kawasan Sudirman, trek GBK, maupun taman-taman kota, siluet para pelari sudah mulai tampak. Ada yang melakukan lari ringan, ada yang sedang mengejar personal best (PB) mereka. Bagi banyak orang, morning run bukan hanya suatu olahraga, melainkan ritual kecil untuk menata ulang fokus dan suasana hati. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil berkeringat sebelum orang lain memulai hari. Sebagian dari mereka berkata, “Lari pagi, tuh, seperti membuat kepala saya lebih rapi, jadi saat masuk kantor saya merasa lebih siap.”
Namun, kota yang sama memancarkan energi yang berbeda ketika malam turun. Lampu-lampu gedung menyala terang, jalanan yang biasanya penuh kini mulai lengang, dan angin malam membawa suasana yang lebih intim. Inilah dunia para pelari night owl. Mereka yang baru bisa bernapas setelah jam kerja panjang atau yang menemukan ketenangan bukan melalui sunrise, tetapi melalui gemerlap lampu kota. Pada pukul 22.00, bahkan 23.00, masih sering terlihat pelari yang baru memulai putaran pertama mereka. “Lari jam 10 malam, tuh, seperti mengembalikan waktu saya yang seharian habis buat kerja,”
Bagi sebagian orang, lari malam adalah ruang untuk meredakan stres. Minimnya kendaraan memberikan rasa aman dan kebebasan, seakan-akan kota ini hanya milik mereka. Ada juga yang menyukai tantangan personal, seperti sensasi berlari cepat di jalanan kosong, seolah sedang menaklukkan metropolitan yang sedang tertidur. Selain itu, social running juga semakin populer. Beberapa komunitas lari sengaja menjadwalkan sesi malam agar para pekerja kantoran bisa ikut bergabung tanpa harus bangun lebih awal.
Meski begitu, lari malam memiliki tantangan sendiri. Banyak pelari menyiapkan rompi reflektif, lampu kecil, atau memilih rute yang aman. Kesadaran situasi menjadi prioritas utama. Pada akhirnya, baik morning run maupun midnight hustle memiliki daya tarik masing-masing. Lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi telah menjadi katarsis, terapi, dan cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Di tengah kota yang sering terasa menuntut dan melelahkan, berlari menjadi salah satu cara paling sederhana untuk kembali merasa hidup.
Jadi, kamu tim morning run yang menyambut matahari atau tim midnight hustle yang jatuh cinta pada keheningan malam?
(DYA/SYN)

Sumber: halodoc.com