Sumber: Kompas.com

Dari Rush Hour ke 24 Hour: Siapkah Menyambut Era Baru KRL Jabodetabek?

Bayangkan pukul 01.30 dini hari, jalanan Jakarta masih ramai oleh pekerja shift malam, penonton konser yang baru bubar, dan penumpang yang baru mendarat di bandara. Di saat semua orang ingin pulang dengan cepat, pilihan transportasi massal yang tersedia sangat terbatas. Kondisi tersebut menimbulkan wacana penambahan jam operasional KRL Jabodetabek menjadi 24 jam. Hal tersebut dapat menyebabkan kereta yang selama ini dikenal sebagai “pahlawan rush hour” berpotensi berubah menjadi tulang punggung mobilitas kota yang tidak pernah berhenti.

Saat ini, jam operasional KRL Jabodetabek dimulai dari pukul 04.00 sampai dengan 23.30 WIB. Setiap harinya, lebih dari ratusan ribu perjalanan melayani puluhan stasiun di kawasan megapolitan ini. Di jam sibuk, kita semua tahu rasanya berdiri desak-desakan, menempel pintu, dan berdoa agar kereta tidak mendadak tertahan sinyal. Namun, di luar jam operasional tersebut, pilihan moda transportasi publik langsung berkurang secara drastis. Kondisi tersebut menyebabkan masalah mulai muncul, terutama bagi pekerja shift malam dan mereka yang rumahnya jauh.

Beberapa waktu terakhir, terjadi peristiwa yang menunjukkan bahwa terdapat pekerja yang tidur beralaskan tas dan jaket di Stasiun Cikarang hanya demi menunggu kereta pertama. Peristiwa tersebut juga ramai di media sosial dan menjadi perhatian publik. Hal tersebut menimbulkan julukan “hotel darurat” oleh warganet di area stasiun. Dengan adanya peristiwa tersebut, Menteri Perhubungan mulai merencanakan penyesuaian layanan KRL hingga 24 jam dengan berkoordinasi bersama KAI serta KAI Commuter untuk mengkaji kemungkinan jam operasional.

Kalau dilihat dari sisi pengguna, keuntungan KRL 24 jam sangat terlihat jelas. Pekerja pabrik di kawasan industri, karyawan ritel dan F&B yang pulang lewat tengah malam, hingga penumpang pesawat yang mendarat dini hari akan memiliki pilihan transportasi yang lebih aman dan terjangkau dibanding harus bergantung pada kendaraan pribadi atau ojek daring (online). Oleh karena itu, kota modern idealnya memang tidak mematikan akses mobilitas hanya karena jam dinding menunjukkan pukul 23.59.

Meskipun demikian, jika dilihat dari sudut pandang operator, peristiwa tersebut tidak sederhana. Pihak KAI menjelaskan bahwa saat ini operasional antara kereta terakhir dan kereta pertama hanya menyisakan kira-kira dua jam efektif untuk melakukan perawatan rangkaian dan prasarana setiap malam. Jika KRL dipaksa berjalan nonstop 24 jam, waktu perawatan tersebut akan hilang. Oleh karena itu, kompromi tentang keselamatan bukanlah sebuah pilihan, tetapi hal utama yang harus diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan publik.

Di luar teknis perawatan, terdapat pula perhitungan mengenai kefektivitifan dan biaya. Pengamat transportasi mengingatkan bahwa jumlah penumpang yang telah lewat dari jam operasional kemungkinan lebih sedikit dibanding jam berangkat dan pulang kerja. Dengan demikian, rencana tersebut harus dikaji ulang dari berbagai aspek, seperti pendapatan dari tiket, dukungan subsidi untuk menutup biaya operasional, listrik, gaji tenaga kerja yang harus bekerja shift ekstra, hingga penguatan pengamanan di area stasiun. Oleh karena itu, jangan sampai hanya untuk mengejar gengsi agar dapat beroperasi 24 jam, justru menimbulkan berbagai permasalahan dan menyebabkan kerugian bagi berbagai pihak.

Selain itu, beberapa pihak mengusulkan pendekatan yang lebih realistis sehingga tidak langsung menuju pada pembahasan jam operasional yang dibuka selama 24 jam di berbagai lintas operasional. Akan tetapi, dapat dilakukan dengan melalui perpanjangan layanan menjadi 21–22 jam per hari di rute tertentu dengan jumlah popularitas pengguna malam yang signifikan. Salah satunya adalah koridor yang menjadi penghubung antara kawasan industri atau kantong pekerja shift, yang dimulai dari akhir pekan atau hari tertentu untuk dilakukan okupansi penumpang dan manfaat sosialnya dengan biaya, serta risiko yang akan terjadi. Oleh karena itu, pihak transportasi umum membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang wajah transportasi publik Jabodetabek. Jika KRL bisa 24 jam, maka harus saling berintergrasi antara Transjakarta, MRT, LRT, dan transportasi umum lain agar memiliki kesiapan bagi penumpang.

Sumber: Bisnis.com

Dengan demikian, wacana KRL 24 jam tidak hanya sekadar tentang kereta yang beroperasi lebih lama, tetapi tentang keberanian kota untuk menyiapkan transportasi umum bagi masyarakat.

Namun, bagi sebagian orang, hal tersebut menjadi kesempatan untuk membeli tiket menuju mobilitas yang lebih inklusif karena terdapat pekerja shift, seniman, pelaku ekonomi malam, hingga penumpang yang selama ini merasa kesulitan untuk pulang hanya karena larut malam. Bagi sebagian orang lainnya, hal tersebut menjadi pengingat untuk memastikan bahwa keselamatan, kualitas layanan, dan kesehatan pekerja transportasi tidak dikorbankan hanya demi jargon “kota yang tidak pernah tidur”. Oleh karena itu, kesiapan wacana untuk beralih dari “rush hour” ke “24 jam” belum tentu terjadi. Akan tetapi, terdapat satu hal yang dapat terlihat jelas bahwa terdapat suara pengguna KRL yang setiap hari berdiri berdesakan di gerbong sehingga menjadi bahan pertimbangan utama ketika rel kota tersebut agar tidak pernah sepi. (AFR/FTH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *