Hujan yang turun dengan aroma tanah basah, udara sejuk, dan gemercik air dalam beberapa hari terakhir memberikan ketenangan bagi beberapa orang. Akan tetapi, di balik suasana yang sejuk dan damai, banyak daerah di Indonesia yang mulai siaga karena debit sungai naik sehingga saluran air meluap dan genangan mulai muncul di jalanan. Musim hujan tidak hanya tentang romantika rintik, tetapi juga ujian bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Banjir bagaikan tamu tahunan di Jakarta yang tidak diundang. Namun, apakah masyarakat hanya akan menunggu air datang, lalu mengeluh setiap tahun? Tentu saja tidak, kekuatan untuk mengubah keadaan tersebut ada di tangan masyarakat sendiri. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat adalah kunci utama
Sumber: Kompas.com
Warga harus memahami bahwa banjir tidak hanya tentang kesalahan alam, tetapi juga akibat perilaku manusia, seperti membuang sampah sembarangan atau menutup tanah resapan. Dengan memahami hal tersebut, maka perubahan dapat dimulai dan dirasakan. Beberapa warga kini sudah mengambil langkah kecil, seperti rutin membersihkan selokan, menanam pohon di sekitar rumah, hingga membuat lubang biopori untuk mencegah genangan air hujan. Langkah kecil tersebut dapat memberikan dampak yang besar bagi lingkungan. Contohnya, di kampung atau daerah yang dulunya sering banjir, kini mulai terlihat hasilnya, yaitu air lebih cepat surut karena lingkungan lebih bersih dan warga kompak untuk menjaga kebersihan lingkungan. Semua itu berawal dari hal sederhana, salah satunya adalah kesadaran untuk bertindak bersama.
Sumber: agungsedayu.com
Musim hujan juga menjadi momen penting untuk memperkuat gotong royong, seperti mengadakan kerja bakti dengan tujuan untuk membersihkan drainase, yang menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan. Selain itu, masyarakat bisa melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan sistem peringatan dini, memperbaiki saluran air, dan melakukan edukasi tentang penanggulangan banjir.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi korban, tetapi juga bagian dari solusi untuk menciptakan hal indah, seperti semangat kebersamaan yang membuat masyarakat sadar bahwa melawan banjir tidak hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Setiap tetes hujan seharusnya membawa kesadaran bagi masyarakat bahwa alam hanya akan seimbang apabila manusia turut menjaganya.
Ketika masyarakat bergerak, lingkungan pun ikut berbenah. Jika masyarakat menjaga kebersihan saluran air di lingkungannya, menanam pohon, dan tidak membuang sampah sembarangan, maka banjir tidak lagi menjadi momok bagi masyarakat. Dengan demikian, mari ubah rasa khawatir menjadi semangat di musim hujan dengan diawali oleh kesadaran yang berubah menjadi aksi nyata karena bumi hanya akan pulih jika kita sebagai penghuni dunia bergerak bersama. (ZFR/FTH)


