Setiap hari, tanpa kita sadari, jari ini terus bergerak tanpa henti menelusuri layar ponsel. Kita menggulir, mengusap, dan membuka berbagai aplikasi yang seolah tidak pernah berhenti memperbarui diri. Aktivitas yang awalnya dimaksudkan untuk mencari informasi atau sekadar hiburan kini menjelma menjadi kebiasaan yang melelahkan. Di balik kemudahan dan kecepatan dunia digital, muncul sebuah fenomena yang semakin sering dirasakan oleh banyak orang di berbagai belahan dunia, yaitu kelelahan digital atau yang dikenal dengan istilah social media fatigue.
Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa jenuh, stres, atau lelah secara emosional akibat paparan berlebih dari media sosial. Dalam laporan Pew Research Center pada tahun 2024, lebih dari 60% pengguna media sosial di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mereka merasa kewalahan oleh informasi yang terus mengalir dan tekanan sosial untuk selalu hadir di dunia maya. Di Asia Timur, terutama di Korea Selatan dan Jepang, terdapat banyak anak muda yang mulai menonaktifkan akun media sosial mereka untuk menjaga kesehatan mental. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelelahan digital telah menjadi isu global yang nyata dan tidak dapat diabaikan.
Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia yang kini menempati posisi sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia. Berdasarkan data We Are Social, terdapat lebih dari 190 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia. Angka ini menunjukkan tingginya tingkat keterhubungan masyarakat, tetapi di sisi lain juga menandakan meningkatnya risiko terhadap tekanan psikologis. Banyak individu, terutama generasi muda, mulai mengeluhkan kehilangan fokus, gangguan tidur, serta munculnya rasa cemas yang sulit dikendalikan akibat terlalu sering berinteraksi di dunia maya.
Sumber: Busurnusa.com
Masalah ini diperparah oleh derasnya arus informasi yang tidak selalu bermanfaat. Lini masa dipenuhi oleh perdebatan politik, konten sensasional, hingga kabar yang belum tentu benar. Masyarakat dipaksa untuk terus memproses informasi tanpa henti, padahal kapasitas otak manusia memiliki batas. Proses ini menciptakan kelelahan mental yang berujung pada stres berkepanjangan. Selain itu, muncul pula fenomena perbandingan sosial, yaitu fenomena ketika seseorang merasa tidak puas terhadap kehidupannya sendiri karena terlalu sering melihat pencapaian orang lain di media sosial.
Dampak dari kelelahan digital tidak hanya dirasakan pada kehidupan individu, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan profesional. Interaksi antarindividu menjadi lebih dangkal, produktivitas menurun, dan hubungan sosial kehilangan makna yang sebenarnya. Untuk menghadapi situasi ini, kesadaran akan pentingnya keseimbangan digital perlu ditanamkan sejak dini. Setiap orang perlu mengatur waktu penggunaan gawai, memilih konten yang benar-benar bermanfaat, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari dunia maya. Pemerintah serta lembaga pendidikan juga harus memperkuat program literasi digital yang menekankan aspek kesehatan mental.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah alat, bukan penguasa kehidupan. Dunia digital memang tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa belajar untuk menggunakannya dengan bijak. Dalam era yang serba cepat ini, mengambil jeda sejenak untuk kembali menatap dunia nyata adalah langkah kecil yang dapat menyelamatkan kejernihan pikiran dan keseimbangan hidup manusia modern. (NPA/ARL)

