Lelah,tetapi Belum Sampai Tujuan

Usia 20-an sering digambarkan sebagai fase emas dalam membangun karier, mengejar mimpi, dan membuktikan diri. Hampir semua keputusan penting dalam hidup diambil pada usia 20-an. Banyak anak muda tumbuh dengan keyakinan bahwa bekerja keras pada usia ini akan berdampak pada kesuksesan di masa mendatang. Akan tetapi, rencana tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Lingkungan yang menekan, gaji yang belum sepadan, serta tuntutan sosial membuat individu pada usia 20-an merasa lelah dan kehilangan arah. Kondisi ini dikenal sebagai burnout, suatu kondisi yang sudah tidak asing lagi di kalangan generasi muda.

Sumber: Verywell Mind

Transisi besar terjadi pada usia ini, yaitutransisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja dan kehidupan dewasa. Pada fase ini, individu dihadapkan pada keputusan-keputusan penting, seperti memilih karier, membangun kemandirian finansial, serta menentukan arah dan tujuan hidup. Di sisi lain, muncul tekanan dari orang terdekat  untuk segera sukses sertatekanan dari lingkungan sosial yang kerap mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian. Ketidakpastian tersebutmenjadikan usia 20-an sebagai fase yang rentan terhadap kelelahan mental dan emosional.

Burnout adalah kondisi kelelahanfisik, emosional, serta mental yang disebabkan oleh stres berkepanjangan, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan. Burnout ditandai oleh tiga hal utama, yaitu kelelahan, kurang motivasi, dan hilang minat terhadap rutinitas. Berbeda dengan stres yang sifatnya sementara, burnout dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani dengan baik.

Tidak sedikit generasi muda memiliki ambisi besar untuk meraihkesuksesan di usia muda. Akan tetapi, realitas tidak selalu ideal seperti yang dibayangkan. Beban kerja yang tinggi, jam kerja yang panjang, minimnya apresiasi dari lingkungan sekitar, serta peluang karier yang terbatas kerap menjadi tantangan.Demi mengejar standar kesuksesan, banyak individu memilih untuk terus produktif tanpa memberi ruang bagi diri untuk beristirahat. Ketika hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan, muncul perasaan kecewa dan gagal yang perlahan mengikis semangat.

Sumber: Medtigo.com

Media sosial turut berperan dalam memperkuat tekanan tersebut. Berbagai platform yang kerap menampilkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna dapat memicu perasaan tidak nyaman bagi para penggunanya, terutama generasi muda yang sangat aktif di media sosial. Tekanan untuk terus tampil sempurna, baik dalam hal pencapaian, kehidupan, maupun penampilan, dapat menjadi pemicu utama burnout.

Tidak hanya memengaruhi kinerja, burnout juga berdampak pada kualitas hidup seseorang secara keseluruhan. Individu yang mengalami burnout cenderung mudah merasa lelah, kehilangan motivasi, sulit berkonsetrasi, serta menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, burnout dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi, serta berdampak pada kesehatan fisik.

Sumber: Negara.my

Mengatasi burnout tidak dapat dilakukan seorang diri. Dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun lingkungan terdekat berperan penting dalam membantu individu merasa dipahami dan tidak sendirian menghadapi tekanan. Berbagi cerita, meminta saran, atau sekadar didengarkan dapat mengurangi beban emosional yang selama ini dipendam. Kehadiran orang lain kerap menjadi pengingat bahwa kegagalan atau kelelahan bukanlah sesuatu yang harus ditanggung sendiri.

Selain itu, manajemen waktu dan penentuan prioritas menjadi langkah penting dalam mencegah kelelahan berlebihan. Banyak individu pada usia 20-an terjebak dalam tuntutan untuk selalu produktif sehingga sulit membedakan hal yang benar-benar penting dengan hal yang masihdapat ditunda. Dengan menyusun prioritas secara realistis dan menetapkan batasan terhadap beban kerja, individu dapat mengurangi tekanan serta memiliki ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.

Burnout juga dapat dikelola melalui aktivitas relaksasi dan praktik mindfulness. Kegiatan sederhana, seperti meditasi, pernapasan sadar, journaling, atau olahraga ringan dapat membantu menenangkan pikiran serta meningkatkan kesadaran diri terhadap kondisi emosional yang dialami. Mindfulness membantu individu untuk hadir pada saat ini, bukan terus-menerus terjebak dalam kecemasan tentang masa depan atau penyesalan atas masa lalu.

Di era digital, istirahat dari media sosial juga dapat menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan, terutama ketika perbandingan sosial mulai memicu rasa tidak cukup dan kelelahan mental. Mengurangi paparan konten yang menampilkan standar kesuksesan yang tidak realistis dapat membantu individu lebih fokus pada proses dan perkembangan diri sendiri tanpa tekanan untuk terus membandingkan pencapaian dengan orang lain.

Apabila burnouttelah dirasakan secara intens dan berkepanjangan hingga mengganggu fungsi sehari-hari, mencari bantuan profesional menjadi langkah yang sangat penting. Konselor, psikolog, atau tenaga kesehatan mental dapat membantu individu memahami akar permasalahan burnout serta memberikan strategi penanganan yang sesuai. Mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan mental diri sendiri.

Burnoutpada usia 20-an bukan merupakan tanda kelemahan atau kegagalan, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Ambisi tetap penting, tetapi tidak harus dibayar dengan mengorbankan kesehatan mental. Usia 20-an bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan proses belajar, bertumbuh, dan menemukan makna hidup. Berdamai dengan realitas tidak berarti menyerah, justru menjadi langkah awal untuk melangkah secara lebih sehat dan berkelanjutan. (KA/NYL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *