Pengunjung tahun 2025 menjadi periode yang penuh kekhawatiran, terutama bagi kondisi ekologis di Pulau Sumatra. Sejak akhir November hingga awal Desember, berbagai wilayah di Pulau Sumatra mengalami banjir besar, banjir bandang, dan tanah longsor. Meskipun hujan ekstrem menjadi pemicu langsung, tetapi terdapat berbagai laporan resmi yang menunjukkan bahwa kerusakan hutan yang berlangsung selama bertahun-tahun telah memperburuk kondisi ekosistem dan membuat bencana makin sulit dikendalikan.
Di Sumatra Barat, citra satelit dan data tutupan lahan memperlihatkan hilangnya ribuan hektare hutan dalam dua dekade terakhir. Ketika banjir bandang terjadi pada akhir November 2025, arus sungai yang membawa potongan kayu berukuran besar mengindikasikan adanya penebangan aktif di kawasan hulu. Hilangnya hutan primer menyebabkan daerah aliran sungai kehilangan kemampuan menyerap air sehingga banjir meluas ke pusat permukiman. Salah satu yang terkena dampaknya adalah kota Padang, terutama di daerah yang sebelumnya memiliki tutupan hutan lebih rapat.
Selain itu, di wilayah timur Sumatra, terdapat ancaman terhadap satwa liar yang makin terlihat jelas. Salah satunya adalah Taman Nasional Tesso Nilo di Riau yang merupakan habitat penting bagi gajah Sumatra yang statusnya kritis dan menghadapi tekanan besar akibat perambahan. Pada 25 November 2025, pemerintah menambah personel keamanan untuk menindaklanjuti ribuan hektare kebun sawit ilegal yang telah masuk ke kawasan konservasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memulihkan ekosistem yang rusak dan melindungi ruang hidup satwa endemik yang makin menyempit.
Oleh karena itu, penyusutan hutan memberikan dampak secara langsung terhadap pertumbuhan konflik antara manusia dengan satwa liar. Salah satu satwa yang terancam punah adalah gajah Sumatra yang sering memasuki perkebunan warga di Riau dan Aceh. Hal tersebut disebabkan karena wilayah jelajahnya makin terbatas. Selain itu, terdapat harimau Sumatra yang mulai muncul di sekitar permukiman akibat menurunnya populasi mangsa alami. Orang utan Sumatra juga kehilangan hutan primer sebagai tempat berkembang biak dan mencari makan. Badak Sumatra pun menghadapi kesulitan dalam mempertahankan habitat dataran rendah yang makin terpecah.
Dengan demikian, fenomena ekologis yang terjadi menjelang akhir tahun 2025 memberikan peringatan bahwa penyusutan hutan Sumatra telah menjadi krisis yang berlangsung pada saat ini. Tanpa langkah nyata untuk mengurangi laju deforestasi dan memperkuat upaya konservasi, keberadaan satwa endemik yang menjadi kekayaan hayati Indonesia akan terancam punah sekaligus menyebabkan krisis ekologis di Sumatra yang tidak hanya sekadar isu lingkungan, tetapi tentang keterkaitan antara keberlangsungan dengan keberlanjutan kehidupan manusia dan satwa liar.
Oleh karena itu, upaya pemulihan hutan, pengawasan terhadap kawasan konservasi, serta keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci untuk memperbaiki keadaan. Meskipun demikian, tanpa perubahan kebijakan yang lebih tegas dan langkah nyata di lapangan, masa depan satwa endemik Sumatra makin suram Penghujung tahun 2025 seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk menjaga hutan. Dengan menjaga hutan, kita dapat menjaga kehidupan. (NYL/FTH)


