Kalian sadar gak, sih, kalau belakangan ini film Indonesia sering muncul di chart global? Salah satu alasannya adalah ekspansi film Indonesia ke pasar internasional yang makin kuat seiring meningkatnya kehadiran konten lokal di Netflix, Amazon Prime Video, dan Disney+ Hotstar. Penonton global kini lebih terbuka terhadap cerita dari berbagai negara sehingga memberi peluang besar bagi sinema Indonesia untuk memperluas jangkauan. Film Indonesia juga hadir dengan penceritaan yang makin matang dan berakar budaya, membuatnya relevan bagi audiens internasional yang mencari perspektif segar. Keberhasilan beberapa judul lokal menembus daftar tayangan populer global pun menjadi bukti bahwa film Indonesia tidak lagi terbatas pada penonton domestik.
Salah satu contoh keberhasilan ekspansi tersebut dapat dilihat pada film Abadi Nan Jaya yang sempat menembus Netflix Top 10 Global Film Non-English di berbagai negara karena perpaduan unsur lokal, seperti jamu, desa Jawa, dan dinamika keluarga dengan tema zombie yang universal. Di sisi lain, film animasi Jumbo juga turut menunjukkan daya saing baru sinema Indonesia setelah resmi tayang di bioskop luar negeri, mulai dari Rusia, Taiwan, hingga beberapa negara Asia dan Eropa. Penerimaan positif terhadap kedua film tersebut membuktikan bahwa baik cerita bernuansa budaya maupun animasi modern dengan kualitas visual tinggi mampu menarik perhatian penonton internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta perfilman global.
Pertumbuhan ini tidak terlepas dari peningkatan kualitas teknis dan profesionalisme rumah produksi dalam mempersiapkan karya yang siap didistribusikan secara internasional. Keikutsertaan film Indonesia di berbagai festival dunia juga turut memperluas jaringan dan meningkatkan minat distributor asing. Kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan platform digital internasional makin memperkuat ekosistem sehingga film Indonesia memiliki jalur distribusi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Dukungan pemerintah melalui diplomasi budaya juga memainkan peran penting. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menunjukkan komitmen untuk memperkuat ekosistem film Indonesia di panggung dunia, terutama melalui partisipasi aktif dalam Hong Kong International Film and TV Market 2025 serta Hong Kong Asia Film Financing Forum ke-23. Dalam forum tersebut, Indonesia Pavilion berhasil mempromosikan lebih dari 100 proyek konten dari 14 rumah produksi kepada investor global. Fadli Zon menegaskan bahwa film adalah sarana diplomasi budaya dan kekuatan ekonomi yang krusial untuk membangun aliansi strategis di industri film Asia dan global.
Prestasi langsung dari dukungan dan jaringan internasional ini makin nyata dengan terpilihnya film Pangku karya Reza Rahadian dalam program HAF Goes to Cannes. Kehadiran film ini di Cannes menjadi bukti bahwa cerita yang sangat lokal tetap memiliki potensi besar di pasar internasional. Pangku, yang mengangkat tradisi kopi pangku di Pantura, memperlihatkan bahwa keunikan budaya daerah dapat diterjemahkan menjadi narasi universal yang memikat penonton global.
Dampak ekspansi ini terasa signifikan bagi perfilman Indonesia. Keberhasilan film-film, seperti Abadi Nan Jaya, Jumbo, dan Pangku, meningkatkan visibilitas budaya Indonesia di luar negeri, membuka peluang kerja sama kreatif, dan menumbuhkan kepercayaan diri industri nasional. Dengan dukungan pemerintah, penguatan jaringan internasional, dan keberanian para sineas untuk terus bereksplorasi, sinema Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memperkuat posisi di kancah global dan memperkaya ragam cerita yang dapat dinikmati masyarakat dunia.
(ARL/NYL)

Sumber: detik.com