Banjir Ekstrem dan Perubahan Iklim: Peringatan yang Tak Bisa Diabaikan

Sumber : United Nations Indonesia

Genangan air yang menyisakan lumpur serta puing-puing telah surut, tetapi menyisakan bekas yang mendalam pada dinding rumah yang coreng-moreng, pada ingatan para korban yang kehilangan sanak saudaranya, dan pada catatan kerugian material yang mencapai triliunan rupiah. Banjir bandang yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi dan ganas melanda berbagai wilayah bukan lagi sekadar fenomena alam biasa. Ini adalah sebuah peringatan keras dan nyata bahwa perubahan iklim kini mulai menunjukkan taringnya. Kita telah memasuki era banjir baru, ketika skala dan intensitasnya tak lagi dapat sepenuhnya diprediksi oleh pola musim yang kita kenal sebelumnya.

Akar masalah ini terletak pada sebuah proses yang tak kasatmata, tetapi berdampak dahsyat. Udara yang semakin panas akibat akumulasi gas rumah kaca telah mengubah atmosfer Bumi menjadi semacam “spons raksasa” yang haus. Setiap derajat kenaikan suhu meningkatkan kapasitas udara dalam menahan uap air. Ketika kondisi meteorologis memicu hujan, “spons” itu diperas dengan kekuatan yang tak terduga. Itulah sebabnya kita kini menyaksikan curah hujan ekstrem. Volume air yang seharusnya turun dalam hitungan hari atau bahkan bulan, kini tercurah hanya dalam beberapa jam. Hujan berintensitas tinggi inilah yang menjadi pemicu utama banjir bandang dan longsor yang datang tiba-tiba serta menghanyutkan apa pun yang ada di hadapannya.

Sumber: Kompas

Namun, kisah ini tidak lengkap jika hanya menyalahkan langit. Perubahan iklim memang memperburuk situasi, tetapi kerusakan di daratan yang dilakukan manusia sendiri memperbesar dampaknya. Di lereng-lereng gunung dan sepanjang daerah aliran sungai, hutan-hutan yang dahulu berfungsi sebagai penahan air dan penyokong ekosistem telah berganti peran menjadi kebun monokultur atau kawasan permukiman. Di wilayah perkotaan, lahan hijau dan area resapan air tertutup rapat oleh beton dan aspal, menciptakan permukaan kedap air yang luas. Ketika hujan deras turun, tak ada lagi akar pepohonan yang menahan aliran air maupun tanah lapang yang menyerapnya. Yang tersisa hanyalah limpasan air permukaan (runoff) dalam volume besar, mengalir deras ke sungai atau saluran air yang kapasitasnya menyempit, lalu menerjang apa pun yang dilaluinya.

Dampak dari perpaduan antara iklim yang mengamuk dan tata ruang yang buruk ini terasa pahit serta multidimensi. Di permukaan, kita melihat kendaraan yang terseret arus, rumah-rumah yang tinggi terendam banjir, dan ruas-ruas jalan yang lumpuh total. Namun, di balik itu, ada nyawa yang melayang, ribuan keluarga yang mengungsi dan kehilangan mata pencaharian, serta trauma psikologis yang menetap lama. Ketika air mulai surut, ancaman baru pun muncul, yaitu adanya resiko penyakit, seperti diare, leptospirosis, dan demam berdarah. Dari sisi ekonomi, aktivitas perdagangan, industri, hingga transportasi terhenti total, mengingatkan betapa rapuhnya infrastruktur yang kita bangun ketika berhadapan dengan amukan alam yang turut kita rusak sendiri.

Sumber: Taharica

Kita kini berada pada titik kritis, di mana tindakan serius bukan lagi sekadar pilihan, tetapi keharusan demi keberlanjutan hidup. Meninggikan tanggul atau memperdalam sungai saja tidak cukup jika akar permasalahan tidak diselesaikan. Peringatan yang dibawa oleh air bah ini menuntut perbaikan yang komprehensif dan berkelanjutan. Pada tingkat global dan nasional, komitmen untuk mengurangi emisi karbon serta mempercepat transisi energi terbarukan harus diperkuat. Pada tingkat lokal, penegakan hukum terhadap alih fungsi lahan dan perlindungan daerah resapan air harus menjadi prioritas utama. Setiap individu dapat berkontribusi dengan mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya penghijauan.

Masa depan kita sangat bergantung pada seberapa serius kita mendengarkan pesan yang dibawa oleh banjir ini. Sebab, jika peringatan kali ini kembali diabaikan, banjir ekstrem di masa depan mungkin tidak lagi memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. (MSA/SZA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *