Dua Puluh Tahun JAFF: dari Akar Independen ke Denyut Sinema Asia

Sumber: Suara Surabaya 

Dua puluh tahun perjalanan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) bukan hanya sekadar angka, tetapi menegaskan bagaimana sebuah gerakan budaya dapat tumbuh dari ruang komunitas menjadi salah satu panggung paling berpengaruh bagi sinema Asia. Tahun 2025 menjadi titik refleksi penting bagi JAFF. Tahun ini JAFF merayakan dua dekade perjalanan artistik, keberanian kuratorial, dan komitmen untuk menghadirkan suara-suara sinema yang lahir dari keberagaman.

Sejak lahir pada pertengahan 2000-an, JAFF dibangun oleh semangat independen dari para sineas dan pelaku komunitas film di Yogyakarta. Layar-layar kecil di kampus, ruang alternatif, hingga halaman terbuka menjadi saksi bagaimana film-film Asia yang sering tidak mendapatkan ruang di bioskop komersial dipertemukan dengan penonton yang haus akan perspektif baru. Itulah akar dari JAFF, yaitu ruang perjumpaan antara kebebasan berekspresi dan keberanian bercerita. Dua dekade kemudian, karakter independen itu tidak memudar, tetapi justru menjadi fondasi yang mengangkat JAFF ke tingkat regional, menjadikannya salah satu festival film Asia yang diperhitungkan karena keberpihakan pada gagasan segar dan karya film yang menantang batas narasi mainstream. Kehadiran sineas muda, kolaborasi lintas negara, hingga kerja kuratorial yang konsisten membuat JAFF kini berdiri sejajar dengan festival-festival film Asia lainnya tanpa kehilangan identitasnya.

Tema “Dari Layar Independen ke Panggung Asia” menjadi cerminan dari perjalanan JAFF. JAFF 2025 tidak hanya menengok ke belakang untuk merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga menegaskan posisi JAFF saat ini, yaitu sebuah festival yang menghubungkan komunitas lokal dengan ekosistem global. Film-film dari Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Selatan, dan diaspora Asia berkumpul untuk dibaca, didiskusikan, dan dirayakan bersama. Melalui forum, masterclass hingga program-progam kompetisi yang semakin matang, JAFF memfasilitasi dialog antarbudaya dan antargenerasi.

Yogyakarta, sebuah kota yang memadukan tradisi, kreativitas, dan ruang kebebasan bagi para seniman, tetap menjadi jantung festival ini. Energi kota inilah yang terus memberi napas baru bagi JAFF setiap tahunnya. Di usia ke-20, atmosfer festival bukan hanya tentang pemutaran film, tetapi juga tentang merayakan komunitas penonton, pembuat film, relawan, dan jejaring kreatif yang menjadikan festival ini hidup.

JAFF 2025 menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun. Ia adalah pengingat bahwa sinema tidak hanya soal karya, tetapi juga gerakan. JAFF juga menjadi pengingat bahwa layar kecil dapat membangun jembatan besar dan festival yang lahir dari komunitas mampu menjadi ruang signifikan dalam percakapan global tentang sinema Asia. Dua dekade telah terlewati, kini JAFF berdiri dengan pencapaian yang mengesankan. Namun, sebagaimana sifat sinema yang selalu bergerak, JAFF tidak berhenti pada nostalgia. Festival ini terus menatap ke depan menyambut perubahan, merayakan keberagaman, dan mempersiapkan diri menjadi ruang yang semakin inklusif, progresif, dan berpengaruh di kawasan Asia. Dalam semangat itulah JAFF 2025 digelar. Melalui JAFF 2025, kita merayakan masa lalu, menghidupi masa kini, dan mengimajinasikan masa depan sinema Asia yang lebih luas dan penuh kemungkinan. (MFG/NRL)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *