Jadwal kuliah yang padat, proker organisasi yang tidak kunjung selesai, hingga tugas kuliah yang terus bertambah setiap hari sering kali membuat kita kewalahan. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada salahnya untuk menghadiahkan diri sendiri atas pencapaian karena sudah bertahan di situasi yang melelahkan. Entah semangkuk mi ayam ditengah hujan, check out barang di keranjang kuning yang bahkan belum tentu dibutuhkan, atau justru memilih untuk memanjakan diri dengan tidur seharian sebagai balas budi kepada tubuh karena telah bertahan dan bekerja keras selama ini. Sebagian besar Gen Z menyebut hal seperti yang sudah disebutkan dengan self reward.
Sumber: Kredivo
Namun, penggunaan istilah self reward di berbagai situasi membuat beberapa orang meragukan arti dari self reward yang sebenarnya, bahkan sebagian orang menyebut istilah itu adalah bentuk pelarian orang-orang atas kepentingan pribadinya. Sebagai contoh, seorang mahasiswa berkata bahwa ingin menghargai dirinya dengan bersantai di cafe dan melupakan tugasnya sejenak. Mungkin terlihat lumrah, tetapi jika dilihat dari sisi yang lain alih-alih self reward, hal itu justru membuat tugas semakin menumpuk.
Di titik inilah batas antara self reward dan pelarian mulai kabur. Kita merasa sedang menghargai diri sendiri, padahal sebenarnya sedang menunda tanggung jawab. Tidak salah untuk beristirahat, tetapi ketika alasan self reward dipakai setiap kali ingin menghindari hal yang tidak nyaman, maknanya jadi berubah. Padahal, konsep self reward yang sehat bukan sekadar memberi hadiah, tetapi memberi jeda setelah upaya. Artinya, hadiah datang setelah target selesai dan bukan sebelumnya, bukan juga untuk mengganti kewajiban. Dengan begitu, istirahat terasa lebih lega karena tidak ada rasa bersalah yang ikut menempel.
Self reward juga tidak harus selalu menghabiskan uang. Ada banyak bentuk penghargaan diri yang murah bahkan gratis, seperti menonton satu episode drama setelah selesai belajar, berjalan kaki pada sore hari sambil mendengarkan playlist favorit, atau sekadar mematikan ponsel selama satu jam untuk memberi ruang pada kepala yang penuh. Selama tujuannya membuat diri kembali bertenaga, itu sudah cukup.
Sumber: Liputan6.com
Pada akhirnya, mahasiswa memang butuh ruang untuk bernapas. Tekanan tugas, organisasi, magang, sampai kehidupan sosial kadang terasa berlebihan. Memberi diri sendiri hadiah adalah hal yang wajar, selama kita tidak menjadikannya sebagai alasan untuk lari dari apa yang seharusnya diselesaikan. Self reward yang paling tulus justru adalah saat kita bisa berkata, “Aku sudah berusaha, dan aku layak untuk mendapatkan ini”. Dengan menjaga keseimbangan itu, self reward bukan lagi pelarian, tetapi cara sederhana untuk tetap waras di tengah kehidupan kampus yang padat. (TPA/NRL)


