Sumber: www.liputan6.com
Pulau Sumatra kembali menghadapi ujian berat di penghujung 2025. Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November 2025. Berdasarkan laporan media, ratusan korban meninggal dunia, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, dan kerusakan infrastruktur meluas di berbagai titik. Tragedi ini menjadi salah satu bencana terbesar yang terjadi di Sumatra dalam satu dekade terakhir dan memberikan cermin tajam tentang kesiapan ketahanan nasional kita.
Peristiwa ini mengungkap bahwa ancaman bencana bukan hanya perkara alam, tetapi juga persoalan tata kelola dan kapasitas mitigasi. Jalan utama terputus, jembatan ambruk, jaringan listrik padam, serta layanan kesehatan kewalahan menampung korban. Dampaknya berlapis sehingga pendidikan terhenti, distribusi logistik terganggu, dan aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh total. Bencana ini bukan hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga mengguncang fondasi kehidupan sosial secara menyeluruh.
Disinilah ketahanan nasional diuji secara nyata. Respons cepat pemerintah, koordinasi TNI– Polri, hingga gerak cepat relawan menjadi titik krusial dalam fase darurat. Namun, kejadian ini juga menunjukkan masih adanya beberapa celah, seperti keterlambatan informasi, keterbatasan alat berat, hingga jalur bantuan yang terhambat oleh kondisi geografis. Kelemahan-kelemahan ini menjadi pembelajaran penting bahwa sistem penanggulangan bencana harus diperkuat dari hulu ke hilir.
Sumber: www.news.detik.com
Meski begitu, ada harapan yang muncul dari solidaritas masyarakat. Warga saling membantu, membuka dapur umum, hingga menyediakan tempat tinggal sementara bagi korban. Ketahanan sosial merupakan elemen paling fundamental dari ketahanan nasional yang tampak begitu kuat di tengah kesulitan. Inilah modal yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia.
Selanjutnya, pembenahan harus dilakukan secara komprehensif dengan penguatan early warning system, rehabilitasi ekosistem hutan, perbaikan tata ruang, pembangunan infrastruktur tahan bencana, hingga peningkatan kesiagaan masyarakat. Bencana Sumatera 2025 bukan hanya sebuah tragedi, tetapi juga peringatan keras bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan tidak bisa lagi diabaikan.
Pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak diukur dari seberapa sering bencana datang, tetapi dari seberapa sigap dan tangguh kita bangkit kembali. Dari Sumatra, Indonesia belajar bahwa ketahanan nasional hanya bisa tercapai ketika negara, masyarakat, dan lingkungan bergerak dalam satu irama. (HN/MTN/NRL)

