Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com

Ancaman Nyata di Musim Hujan: Pelajaran dari Banjir dan Longsor 2025

Musim hujan di akhir 2025 membawa pelajaran bagi kita semua. Cuaca ekstrem bukan hanya sekadar prediksi, melainkan ancaman nyata yang bisa mendatangkan bencana besar. Fenomena banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia bukan hanya soal air dan tanah, tetapi juga soal kewaspadaan, solidaritas, dan kesiapsiagaan bersama.

Kenapa Cuaca Kini Makin Ekstrem?

Menurut BMKG, sejak November 2025, Indonesia memasuki periode puncak musim hujan yang diprediksi berlangsung sampai Februari 2026. Curah hujan yang meningkat tajam bersama faktor atmosfer, seperti aktifnya gelombang MJO, Kelvin, dan Rossby, membuat potensi hujan lebat, banjir, dan longsor meningkat.

Selain itu, laporan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa curah hujan berat telah memicu bencana di beberapa provinsi, menggambarkan bahwa perubahan iklim dan pola cuaca ekstrem makin nyata dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Sumber: Baznas

Di wilayah Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Sukabumi, hujan deras pada akhir Oktober 2025 menyebabkan banjir dan longsor yang memaksa hampir 1.900 warga mengungsi. Enam desa terdampak cukup parah, dua di antaranya bahkan terkena longsor. Sementara itu, di banyak wilayah Sumatra, termasuk Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, intensitas hujan ekstrem menyebabkan banjir bandang dan longsor sehingga korban tewas terus bertambah dan ribuan warga harus mengungsi.

Dampak luas ini menimbulkan kerusakan pada infrastruktur, rumah, fasilitas umum, dan menyisakan trauma sosial yang mencakup kehilangan rumah, kehilangan aset, bahkan kehilangan orang terkasih.

Banjir dan longsor akhir 2025 mengajarkan kita banyak hal, yaitu sebagai berikut.

  • Kesiagaan lebih penting daripada tindakanreaktif

Informasi dini, seperti peringatan dari BMKG harus direspons dengan serius. Masyarakat di daerah rawan harus siap siaga dengan memantau cuaca, menyiapkan jalur evakuasi, dan waspada terhadap peringatan hujan lebat.

  • Infrastruktur dantata ruang perlu diperhatikan

Permukiman di daerah rawan longsor dan banjir perlu perencanaan yang lebih matang. Hindari membangun di lereng curam atau bantaran sungai tanpa proteksi memadai.

  • Solidaritas antarwarga jadi penyelamat

Saat bencana terjadi, warga lokal, relawan, dan unsur pemerintah biasanya bahu-membahu. Mereka sigap bersama menyelamatkan banyak nyawa, mulai dari evakuasi, bantuan darurat, hingga distribusi logistik.

  • Kesadaran terhadap alam dan perubahan iklim

Perubahan pola cuaca ekstrem bukan sekadar fenomena temporer, melainkan dapat berupa akibat dari perubahan iklim. Kita perlu lebih peduli terhadap lingkungan dan perilaku kita sehari-hari.

Meski bencana telah menimbulkan luka, momen ini bisa menjadi titik balik bagi kita untuk belajar dan membangun kesadaran kolektif. Masyarakat dari desa hingga kota harus memperkuat budaya siaga, saling bantu, sadar risiko, dan responsif terhadap peringatan dini. Pemerintah dan semua pihak juga perlu memperkuat sistem peringatan, mitigasi, serta infrastruktur yang tangguh terhadap cuaca ekstrem.

Mari jadikan ujian alam ini sebagai cambuk untuk lebih peduli terhadap sesama, lingkungan, dan masa depan. Bersama, kita bisa bangkit lebih tangguh menghadapi tantangan alam. (GZS/ARL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *