Sumber: Pinterest
Pukul dua pagi, tubuh sudah lelah, tetapi kepala masih menggelar rapat. Topiknya bermacam-macam: chat yang belum dibalas, nilai ujian minggu depan, sampai kalimat canggung yang terlontar tiga tahun lalu tiba-tiba diputar ulang seperti reels yang di-loop. Tidak ada notulen, tidak ada keputusan, hanya lingkaran pikiran yang berputar di tempat. Itulah overthinking. Bagi banyak anak muda saat ini, rapat semacam ini nyaris menjadi agenda harian yang tak pernah diundang, tetapi selalu dihadiri.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan generasi yang katanya “kurang tahan banting”. Riset Health Collaborative Center bersama Ray Wagiu Basrowi, yang melibatkan lebih dari seribu responden dari 29 provinsi pada awal 2025, menemukan bahwa separuh penduduk Indonesia mengalami pola pikir negatif yang berulang atau repetitive negative thinking. Pada mahasiswa, pemicunya beragam, mulai dari tugas yang menumpuk, nilai yang meleset dari harapan, tekanan dari orang tua, hingga urusan asmara. Sementara itu, kajian lain menyoroti bagaimana ekspektasi akademik, standar penampilan yang dipengaruhi media sosial, serta ketidakpastian mengenai masa depan menjadi tiga pemicu utama yang terus dihadapi remaja masa kini.
Media sosial memiliki peran yang tak bisa diabaikan. Sebuah penelitian dengan pendekatan kuantitatif terhadap seratus mahasiswa menemukan hubungan positif yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan penurunan kesehatan mental terkait overthinking. Masuk akal: linimasa yang menampilkan versi terbaik kehidupan orang lain menjadi bahan perbandingan tanpa henti, sementara notifikasi yang tak kunjung berbunyi dapat ditafsirkan sebagai seribu skenario buruk.
Sumber: Pinterest
Dampaknya jauh dari sepele. Psikolog Susan Nolen-Hoeksema, yang risetnya mengenai ruminasi kerap dirujuk dalam berbagai kajian ini, menjelaskan bahwa kebiasaan memikirkan hal-hal negatif secara berulang dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi karena pikiran yang terus berputar membuat seseorang terjebak dalam kelelahan mental. Di kalangan mahasiswa, dampaknya merambah ke kehidupan sehari-hari: insomnia, sulit fokus, motivasi belajar yang anjlok, bahkan kualitas hidup yang terasa hambar karena energi habis untuk mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Kabar baiknya, rapat kepala yang tak berkesudahan ini bukan tanpa jalan keluar. Beberapa kajian menunjukkan bahwa kesadaran diri, penerimaan, dan dukungan sosial yang positif dapat membantu menekan dampak negatif overthinking. Teknik sederhana seperti STOP: berhenti sejenak, tarik napas, amati, lalu lanjutkan. Hal tersebut terbukti membantu siswa lebih hadir pada momen saat ini alih-alih terus terjebak pada masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Sesederhana menuliskan kekhawatiran di kertas, membatasi waktu bermedia sosial, atau sekadar bercerita kepada orang yang dipercaya, semua itu merupakan cara membubarkan rapat yang tak perlu.
Generasi muda tidak lemah karena terlalu banyak berpikir. Mereka hanya perlu belajar cara memimpin rapat di kepala sendiri, tahu kapan harus membahas dan kapan harus mengetuk palu, lalu pulang. (SAF/NDC)
You may also like
Pertahanan Kini Bukan Sekadar Soal Senjata: Perpres Baru Kategorikan Penyebaran Budaya LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter
Di Balik Mimpi Besar dan Kota yang Makin Padat, Apakah Masih Worth It Merantau ke Jakarta?
Upaya Perdamaian Iran dan AS: Harapan Baru di Tengah Proses Diplomasi
Solar Berbasis Sawit: Ketika Indonesia Berani Memutus Ketergantungan pada Minyak Impor
Krisis Heatonomics 2026: Bagaimana Gelombang Panas Eropa Memangkas Output Kerja dan Memicu Perlawanan Buruh


