Digitalisasi Pendidikan: Bukan Sekadar Pengadaan Laptop

Modernisasi yang terjadi saat ini secara tidak langsung memaksa ruang kelas untuk terus berkembang dan bertransformasi. Kapur dan papan tulis perlahan digantikan oleh sistem layar, platform cloud, hingga kecerdasan buatan. Di Indonesia, akselerasi ini mencapai puncaknya beberapa tahun terakhir melalui langkah strategis Gerakan Merdeka Belajar. Salah satu langkah yang paling nyata dan terlihat jelas dalam program ini adalah penyebaran laptop Chromebook ke berbagai unit pendidikan di berbagai wilayah negeri.

Sumber : Wikipedia

Langkah ini sebenarnya muncul dari pandangan yang berorientasi pada masa depan. Setelah pandemi, memiliki gawai bukan lagi tanda kemewahan, melainkan kebutuhan pokok untuk mengurangi kesenjangan akses informasi. Pemerintah berharap anak-anak bangsa tidak tertinggal  dalam penguasaan teknologi dan memiliki kemampuan yang memadai sebelum menghadapi dunia industri global yang makin terdigitalisasi. Namun, ketika harapan yang tertulis di kertas tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, niat baik tersebut justru tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Titik Balik Inovasi dan Pentingnya Akuntabilitas
Pengadaan Chromebook yang semula diharapkan menjadi langkah maju ternyata mendapat kritik tajam karena dugaan masalah dalam proses administrasinya. Nama mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, tetap menjadi sorotan publik karena program tersebut dijalankan di bawah pimpinannya.

Sumber: kompas.com

Jebakan Reduksionisme Ekosistem
Polemik mengenai pengelolaan tersebut sama sekali tidak boleh mengurangi keyakinan kita terhadap pentingnya teknologi dalam dunia pendidikan. Hambatan ini justru menjadi kesempatan untuk mengevaluasi cara penerapannya, bukan berarti gagasan tersebut dibatalkan.
Kelemahan mendasar yang sering terjadi adalah mempersepsikan digitalisasi hanya sebagai pengadaan perangkat, seolah-olah transformasi sudah selesai hanya dengan memberikan perangkat fisik. Padahal, sebuah laptop tidak akan bisa mengubah apa pun jika tidak didukung oleh komponen ekosistem lainnya. Contohnya di daerah 3T, pembagian perangkat elektronik tanpa jaminan pasokan listrik yang stabil dan koneksi internet yang memadai menjadikan perangkat canggih tersebut berakhir sebagai benda yang hanya dipajang di lemari.
Kondisi ini makin memburuk karena munculnya paradoks administrasi melalui platform baru seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang seharusnya membantu mengurangi beban pekerjaan, tetapi justru sering kali menimbulkan kecemasan baru bagi para guru. Waktu yang seharusnya digunakan guru untuk menjaga kualitas interaksi mengajar di kelas, kini sering kali habis karena harus mengisi berbagai data aplikasi secara formal untuk memenuhi standar performa klinis. Akhirnya, pindahnya sistem kerja ke ruang digital ini membutuhkan kesiapan mental dan perubahan budaya belajar yang dalam bagi para guru, yaitu sebuah proses penyesuaian yang tidak bisa dicapai hanya dengan sosialisasi yang singkat dan instan.

Makna Sejati Transformasi

Pada akhirnya, esensi digitalisasi pendidikan adalah membangun budaya belajar yang inklusif, modern, dan berkeadilan. Gawai, aplikasi, maupun jaringan internet hanyalah medium perantara, bukan tujuan akhir.

Keberhasilan sejati dari transformasi ini tidak dapat diukur hanya dari banyaknya laptop yang berhasil dikirimkan ke berbagai daerah. Keberhasilan tersebut baru terasa ketika teknologi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, mengurangi perbedaan antara satu sama lain, dan memberikan dampak nyata yang bisa dirasakan secara merata oleh semua anak bangsa.(IRS/NFA)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *