Langit Tak Lagi Biru: Krisis Kabut Asap dan Ancaman bagi Kehidupan di Kalimantan

Hingga saat ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Kalimantan. Kabut asap pekat menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Meski demikian, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, beserta jajaran pemerintah belum menetapkannya sebagai bencana nasional. Faktor yang diduga menyebabkan karhutla belum padam adalah penanganan oleh pemerintah yang dinilai kurang optimal.

Sumber: x

Dampak yang dialami masyarakat selama karhutla berlangsung adalah meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA di tujuh provinsi yang terdampak asap kabut karhutla. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus dialami oleh balita. Bayi dan balita menjadi kelompok yang rentan terhadap paparan kabut asap.

Sumber: x

Tidak hanya itu, paparan kabut asap yang terus-menerus berpotensi berdampak pada kesehatan jiwa. Selain masyarakat, hewan juga merasakan dampak dari karhutla. Habitat yang menjadi tempat berlindung dan mencari makan habis terbakar akibat bencana ini. Tidak sampai di situ, hewan juga mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap.

Sumber: x

Saat ini, kabut asap telah menyebar hingga Singapura dan menyelimuti sejumlah sekolah di Malaysia. Karhutla juga menimbulkan kerugian ekonomi. Berdasarkan data terbaru, kerugian akibat karhutla tercatat sepanjang Januari hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun. Kabut asap menghambat aktivitas perdagangan, transportasi, dan pariwisata. Selain itu, kebakaran lahan juga merusak perkebunan yang menjadi mata pencaharian warga.

Pada akhirnya, karhutla tidak hanya tentang kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga merupakan ancaman bagi kehidupan manusia, satwa, dan lingkungan. Pemerintah perlu memperhatikan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya berhenti pada pemadaman, tetapi juga harus mencakup pemulihan dan pencegahan supaya peristiwa serupa tidak terulang kembali. (SAF/NFA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *