“Lagi sibuk banget, nih.” Kalimat tersebut mungkin terdengar biasa, bahkan sering dianggap membanggakan terutama di kalangan mahasiswa. Jadwal penuh, tugas yang menumpuk, rapat organisasi, magang, volunteer, hingga mengejar berbagai pencapaian kerap dipandang sebagai tanda bahwa seseorang sedang berkembang menjadi lebih baik. Di kalangan mahasiswa, sibuk seolah menyatu dengan identitas mereka. Makin padat aktivitas, makin dianggap produktif.
Namun, pernahkah kalian merasa lelah, tetapi takut untuk berhenti? Banyak mahasiswa saat ini hidup di tengah budaya “harus sibuk”, bukan hanya karena tuntutan akademik, melainkan juga karena adanya tekanan sosial. Terkadang media sosial menjadi ruang perbandingan tanpa kita sadari. Saat melihat pencapaian teman, seperti mengikuti lomba, menjadi panitia, magang di perusahaan besar, atau sekadar membagikan pencapaian lainnya, muncul dorongan dalam diri untuk bergerak seperti mereka. Rasanya seperti ada suara yang berkata, “Kalau mereka bisa melakukan hal sebanyak itu, kenapa saya tidak?”
Sumber: unsplash.com
Saat itulah kesibukan perlahan berubah, bukan lagi murni untuk berkembang, melainkan bentuk pencarian validasi di lingkungan sosial. Menurut penelitian Frontiers in Psychology (2022), tekanan akademik yang tinggi dapat berdampak pada meningkatnya stres, kecemasan, dan kelelahan emosional pada mahasiswa. Artinya, ketika seseorang terus memaksakan diri untuk memenuhi ekspektasi tanpa memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri, maka kondisi mental orang tersebut pun akan ikut terkikis.
Masalahnya, burnout tidak selalu datang dengan tanda yang jelas. Terkadang kita tetap bisa terlihat aktif, hadir di berbagai kegiatan, tersenyum, dan terlihat baik-baik saja. Padahal, dalam dirinya ada rasa lelah yang terus menumpuk, kehilangan motivasi, bahkan hingga kehilangan tujuan hidupnya sendiri. Rutgers University (2023) juga menegaskan bahwa cara mahasiswa memaknai tekanan dapat sangat memengaruhi kondisi mental mereka.
Sumber: unsplash.com
Ironisnya, di tengah budaya yang mengagungkan produktivitas, istirahat justru sering dianggap sebagai kemunduran. Padahal, berhenti sejenak bukan berarti kalah, sebagaimana memilih kesempatan bukan berarti gagal, justru itu menunjukkan kendali diri. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa stres berkepanjangan yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi kelelahan mental yang serius. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa produktif bukan berarti terus-menerus memforsir diri.
Menjadi mahasiswa memang saatnya untuk terus bertumbuh, tetapi bertumbuh tidak berarti harus selalu melakukan semuanya sekaligus. Ada kalanya hal paling produktif yang bisa dilakukan adalah mengenali batas kemampuan diri kita sendiri. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk, melainkan siapa yang mampu berjalan tanpa kehilangan dirinya di tengah perjalanan. (APR/SK)
You may also like
Ketika Side Hustle Menjadi Kewajiban, Bukan Sekadar Pilihan
Penghapusan Program Studi Keguruan: Solusi Ketidaksiapan atau Ancaman bagi Pendidikan?
Menjaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Tantangan: Analisis Kebijakan Suku Bunga 4,75%
Saat Rumah Menjadi Tempat Kerja: Urgensi Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Perisai Hukum bagi Perempuan: Urgensi Pencatatan Perkawinan dalam KUHP Baru


