
JAKARTA — Rata-rata pengeluaran generasi Z di Jakarta sepanjang 2025 mencapai hampir Rp12 juta per bulan menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Besarnya biaya hidup tersebut menunjukkan bahwa beban anak muda di ibu kota kini tidak lagi didominasi kebutuhan pangan, melainkan berbagai pengeluaran penunjang aktivitas sehari-hari.
Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto, mengatakan rata-rata pengeluaran generasi Z mencapai Rp11,97 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp7,14 juta digunakan untuk kebutuhan non makanan, sedangkan Rp4,83 juta dialokasikan untuk kebutuhan makanan.
“Rata-rata pengeluaran tertinggi berada di Jakarta Selatan sebesar Rp15.168.533 per bulan, sedangkan yang terendah berada di Kepulauan Seribu sebesar Rp6.082.246 per bulan,” ujarnya.
Pengeluaran non makanan mencakup berbagai kebutuhan yang sulit dihindari masyarakat perkotaan, seperti biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, perlengkapan kerja, hingga perangkat elektronik.
Besarnya porsi pengeluaran tersebut menunjukkan biaya hidup di Jakarta tidak lagi hanya ditentukan oleh kebutuhan pangan, tetapi juga mobilitas, pendidikan, dan kebutuhan penunjang pekerjaan yang terus meningkat.
Sorotan Penggunaan Paylater
Di sisi lain, kondisi ekonomi generasi muda di Jakarta masih menghadapi sejumlah tantangan. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15–29 tahun pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia 30–59 tahun yang sebesar 3,25 persen.
Selain itu, sekitar 21,47 persen pekerja muda masih bekerja di sektor informal dan umumnya memiliki pendapatan tidak tetap.
Kondisi tersebut mendorong makin banyak generasi muda memanfaatkan layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater untuk mengatur arus kas.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, mengatakan bahwa meningkatnya penggunaan paylater di kalangan anak muda tidak dipicu oleh satu faktor saja.
Menurutnya, terdapat tiga penyebab yang saling berkaitan, yakni kemudahan akses terhadap produk, kondisi ekonomi pengguna, serta kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan tingkat literasi keuangan masyarakat.
“Paylater merupakan kredit yang dibuat sangat mudah untuk diakses karena ditempatkan langsung pada halaman pembayaran. Konsumen tidak perlu datang ke bank atau melalui proses yang panjang. Cukup dengan beberapa kali klik, barang langsung diterima, sementara pembayarannya dilakukan kemudian,” kata Adrian kepada Kompas.
“Mereka harus membayar transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, bahkan membantu keluarga. Paylater kemudian digunakan untuk menjembatani kebutuhan saat ini dengan pendapatan yang baru diterima pada masa mendatang,” lanjutnya.
Menurut Adrian, tekanan ekonomi menjelaskan alasan seseorang membutuhkan kredit. Namun, kemudahan penggunaan paylater juga dapat meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja secara impulsif.
“Banyak penelitian di Indonesia menemukan hubungan positif antara penggunaan paylater dan pembelian impulsif. Makin mudah digunakan, maka makin besar peluang konsumen melakukan pembelian secara spontan,” ujarnya.
Beliau menilai bahwa paylater dapat menjadi instrumen keuangan yang bermanfaat apabila digunakan sebagai consumption smoothing, yaitu untuk menjembatani kebutuhan sementara hingga pendapatan diterima.
Namun, kondisi akan berbeda apabila utang terus digunakan untuk menutupi kekurangan pendapatan rutin karena dapat berisiko memperburuk kondisi keuangan pengguna. (Sumber: cna.id) (DAP/NFA)
You may also like
PAYLATER BUKAN UANG GRATIS: ILUSI KEBEBASAN FINANSIAL DI ERA SATU KLIK
Rejecting the Normalization of ‘Academic Burnout’: The Urgency of Maintaining Physical and Mental Balance Amid the Overwhelming Load of College Assignments
Silent Walking, Tren Jalan Santai tanpa Musik yang Banyak Dicoba Anak Muda
Why Are Containers Piling Up at Tanjung Priok Port?
President Prabowo’s Frequent Overseas Visits Spark Public Debate