Bayangkan bangun pada pagi hari dan membuka jendela, tetapi bukannya udara segar yang masuk, melainkan bau asap yang langsung tercium. Langit yang biasanya cerah terlihat berkabut, aktivitas di luar rumah mulai dibatasi, dan rasa khawatir perlahan muncul. Bagi sebagian masyarakat di Kalimantan, kondisi seperti ini bukan lagi sekadar bayangan. Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi permasalahan yang terus berulang.
Karhutla sering kali dibicarakan dari sisi luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas yang terdeteksi. Padahal, ada hal lain yang tidak kalah penting: kehidupan masyarakat yang ikut berubah karena kebakaran tersebut. Ketika asap mulai menyebar, masyarakat harus beradaptasi dengan keadaan. Anak-anak mungkin tidak bisa bebas bermain di luar, kegiatan sekolah terganggu, dan orang-orang yang bekerja di luar ruangan harus tetap beraktivitas meskipun kualitas udara sedang buruk.

Sumber: Disway Kalimantan Utara
Asap juga bukan sekadar sesuatu yang membuat mata perih atau tenggorokan terasa tidak nyaman. Paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang sensitif terhadap kondisi udara. Pada saat yang bersamaan, masyarakat tetap harus menjalankan kehidupan seperti biasa. Mereka harus bekerja, berjualan, pergi ke sekolah, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Karhutla juga meninggalkan dampak yang lebih panjang bagi lingkungan. Hutan yang terbakar membutuhkan waktu untuk pulih, sedangkan berbagai satwa dapat kehilangan habitatnya. Kerusakan tersebut pada akhirnya juga dapat memengaruhi masyarakat yang hidup berdampingan dengan lingkungan sekitar hutan.

Sumber: BBC
Penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, pengawasan wilayah rawan kebakaran, kesiapsiagaan petugas, serta pengelolaan lahan yang lebih aman perlu dilakukan secara bersama-sama. Masyarakat yang terdampak juga membutuhkan dukungan agar tetap dapat menjalani kehidupan dengan aman selama kondisi karhutla berlangsung.
Pada akhirnya, karhutla bukan hanya tentang hutan yang kehilangan pepohonan, melainkan juga manusia yang kehilangan kenyamanan, kesehatan, bahkan penghasilan. Ada pula lingkungan yang membutuhkan waktu panjang untuk kembali pulih. Oleh karena itu, menjaga hutan seharusnya tidak hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Sebab, sebelum asap memenuhi udara, ada banyak hal yang sebenarnya masih bisa kita cegah. (SFR/NDC)
You may also like
Implementasi Akhlak Rasulullah SAW di Tengah Perkembangan Media Sosial
Ketika Gempa Datang Tanpa Peringatan, Begini Cara Melindungi Diri
Misi Spider-Man di Tebing Hawu: Kibarkan Bendera Merah Putih dan Lawan Tambang
Gempa M7,7 di NTT: Guncangan Belum Reda, Kerusakan Terus Bertambah
Semarak HUT Ke-81 RI: Pesta Rakyat Wujudkan Ekonomi Berdaulat melalui UMKM