
Sumber: Antara Foto
Gempa bermagnitudo 7,7 menghantam Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Pusat gempa terindikasi berada di laut, sekitar 38 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Guncangan menyebar ke sejumlah kabupaten, merusak bangunan, dan memicu tsunami di sepuluh titik pesisir. Dalam hitungan menit, ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan ratusan lainnya menjadi korban.
Per Selasa, 18 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 70 orang meninggal dunia. Basarnas melaporkan 132 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 40 orang mengalami luka berat dan 92 orang mengalami luka ringan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat angka yang lebih besar, yaitu 1.182 korban luka. Data ini berdasarkan pada jumlah warga yang tercatat menerima perawatan di fasilitas kesehatan. Perbedaan ini diakui oleh Plt Kepala Pusat Data BNPB, Berton SP Panjaitan, sebagai konsekuensi dari perbedaan metode pendataan.
Hingga Selasa sore, tercatat 2.119 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 magnitudo dan terkecil 1,3 magnitudo. Sebanyak 70 kali di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa masih akan berlangsung fluktuatif selama dua hingga tiga pekan ke depan dengan pola peluruhan yang belum terlihat jelas. Kondisi ini jelas menyulitkan proses evakuasi dan distribusi bantuan, terutama di daerah dengan medan berat seperti Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.

Sumber: Reuters
Data kerusakan yang tercatat mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam tiga hari terakhir. Berdasarkan laporan BPBD NTT per 18 Agustus, tercatat 6.463 rumah rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan. Total rumah terdampak mencapai 7.968 unit.
Fasilitas umum dan infrastruktur juga tidak luput dari kerusakan. Sebanyak 744 unit dilaporkan rusak, melonjak drastis dari 163 unit pada 15 Agustus. Sebuah rumah sakit di lokasi terdampak juga dilaporkan rusak parah sehingga memaksa staf medis memindahkan pasien ke tenda darurat di area parkir.
Sebanyak 5.488 jiwa tercatat mengungsi secara terpusat dan 171 jiwa lainnya memilih mengungsi secara mandiri. Kebutuhan dasar, seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan menjadi prioritas utama di pos pengungsian. Data ini masih bersifat sementara dan dapat berubah sesuai hasil verifikasi di lapangan.
BNPB mengaktifkan posko nasional di Labuan Bajo dan posko taktis di Maumere. Ribuan paket logistik dikirim ke tujuh kabupaten terdampak, termasuk Kabupaten Manggarai, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende melalui jalur darat dan udara. Kepala BNPB bersama menteri turun langsung ke lokasi untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal, dengan fokus pada pemulihan layanan dasar dan pendataan kerusakan.
Namun, masa tanggap darurat hanyalah awal. Pemulihan jangka panjang membutuhkan rekonstruksi rumah dan fasilitas umum, pemulihan ekonomi masyarakat, serta dukungan psikososial bagi korban, terutama anak-anak dan lansia. Masyarakat juga dihimbau untuk terus waspada terhadap potensi gempa susulan serta selalu mengikuti arahan petugas di lapangan.
Gempa NTT mengingatkan pentingnya sistem mitigasi bencana yang kuat dan respons cepat. Bantuan darurat sudah bergerak, tetapi akuntabilitas terhadap korban dan proses pemulihan tidak boleh berhenti di posko saja. Yang dibutuhkan bukan hanya angka, melainkan juga kehadiran negara yang nyata dan berkelanjutan. (DBS/MFA)
You may also like
Semarak HUT Ke-81 RI: Pesta Rakyat Wujudkan Ekonomi Berdaulat melalui UMKM
Konstitusi di Dalam Genggaman, tetapi Tidak Pernah Dibuka
81 Tahun Merdeka Sejauh Mana Kemerdekaan Dirasakan Masyarakat?
Merdeka, tetapi Merasa Terusir? The Shocking Truth di Tanah Sendiri
Dari Suara Menjadi Aksi: Ketika Remaja Tidak Lagi Diam Menghadapi Masalah Sosial