Setiap hadir pada acara kumpul keluarga atau reuni, ada satu pertanyaan yang sering kali ditujukan kepada pasangan suami istri, “Kapan menambah momongan, banyak anak itu banyak rezeki, berkah!”
Sebagai seseorang yang hidup di tengah realitas modern, terdapat rasa tidak nyaman setiap kali mendengar pertanyaan tersebut. Bukan karena anti terhadap anak atau kehilangan nilai kekeluargaan, melainkan karena ada romantisasi buta di balik pertanyaan itu. Pasangan yang ingin menambah anak sudah seharusnya merefleksikan diri. Banyak hal yang harus diperhitungkan, apakah secara finansial dan mental kami sudah siap? Apakah kami mampu menjalankan kewajiban sebagai orang tua? Apa konsekuensinya jika kami belum memenuhi semua hal tersebut?

Sumber: fity.club
Jika kita melihat sejarah di masa lalu, pepatah “banyak anak banyak rezeki” sangat masuk akal. Di era masyarakat agraris, anak adalah “aset” ekonomi. Mereka adalah tenaga kerja tambahan untuk menggarap sawah. Jadi, mereka berkesimpulan bahwa makin banyak anak, makin banyak hasil panen.
Namun, kita tidak lagi hidup di abad ke-19. Kini, kita hidup di era yang mana biaya pendidikan melambung tinggi, harga susu tidak pernah turun, dan persaingan hidup makin kejam. Anak bukan lagi tenaga kerja, melainkan manusia merdeka yang hak-hak dasarnya wajib dipenuhi.
Sering kali, pepatah “rezeki anak sudah ada yang mengatur” dijadikan dalih atau cop-out oleh sebagian orang tua untuk lari dari tanggung jawab menafkahi. Hal yang harus disadari oleh setiap pasangan bahwa Tuhan memang Maha Pemberi rezeki, tetapi kita dititipkan anugerah akal sehat untuk merencanakannya. Ketika orang tua dengan nekat memiliki banyak anak tanpa modal finansial dan mental yang cukup, beban itu tidak hilang begitu saja. Beban itu justru terlimpahkan ke pundak anak-anak yang tidak berdaya.

Sumber: cantikbijak.com
Pertama, tentang ibu. Berapa banyak ibu di luar sana yang burnout, kehilangan identitas diri, hingga mengorbankan kewarasannya karena harus mengurus banyak anak dengan sumber daya seadanya? Romantisasi “ibu yang tangguh” sering kali menutupi fakta bahwa banyak ibu yang merasa kelelahan baik secara fisik maupun mental.
Kedua, beban itu sering kali jatuh secara paksa ke pundak anak pertama atau anak-anak yang lebih tua. Fenomena parentification adalah hal yang lumrah terjadi. Seorang kakak harus merelakan masa kecilnya, atau lebih parah, mengorbankan cita-cita dan pendidikannya demi langsung bekerja membiayai adik-adiknya. Sebagai orang tua sebaiknya kita bertanya: apakah adil merampas masa depan satu anak demi menghidupi anak yang lain?

Sumber: idntimes.com
Kemudian bagian yang paling menyedihkan, beban terberat ditanggung oleh anak-anak itu sendiri. Ketika kasih sayang, waktu, dan uang harus dibagi ke terlalu banyak kepala, kualitas asuhan pasti menurun. Kita dapat melihatnya dari data statistik, angka stunting (gizi buruk) yang tinggi, angka putus sekolah, hingga anak-anak yang tumbuh dengan kekosongan emosional karena orang tua mereka terlalu sibuk mencari uang demi menyambung hidup.
Pada akhirnya, mendatangkan manusia baru ke dunia ini adalah tanggung jawab tertinggi yang bisa diemban oleh seorang manusia. Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, kitalah yang mengundang mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menyiapkan “rumah” yang layak sebelum mereka datang.(KA/SK)
You may also like
PMI Lebih dari Sekadar Donor Darah: Mengenal Sosok ‘Life Saver’ Nyata di Masyarakat
Di Balik Berita yang Kita Lihat, Ada Risiko yang Mereka Hadapi
Sepiring MBG Bisa Kenyangkan Perut, tetapi Bisakah Meyakinkan Publik?
Alarm Bencana yang Kita Biarkan Berbunyi Tanpa Tindakan
Lari sebagai Sarana Bertahan Diri: Cara Tetap Bugar di Tengah Kesibukan