Pernah tidak, ketika kita sedang berada di sebuah momen yang menyenangkan, tetapi tiba-tiba kepikiran, “Ini harus di-posting tidak, ya?” Dan akhirnya, alih-alih menikmati momen tersebut, kita justru sibuk mencari angle terbaik, mengambil foto, membuat video, atau memikirkan caption yang cocok. Tanpa sadar, momen yang seharusnya menjadi sebuah pengalaman justru berubah hanya menjadi sebuah konten.
Sumber: Unsplash
Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang kita lakukan terasa belum lengkap kalau belum dibagikan. Makan bersama teman, pergi liburan, menghadiri konser, bahkan sekadar menikmati matahari terbenam pun sering kali terasa lebih berharga ketika berhasil diabadikan dan mendapatkan respons dari orang lain. Like, komentar, dan jumlah views perlahan menjadi ukuran baru tentang seberapa berkesan sebuah momen.
Masalahnya, tidak semua hal harus terlihat oleh banyak orang.
Tren media sosial juga mengubah cara kita memaknai sesuatu. Konten atau sesuatu yang sedang viral sering kali dianggap lebih menarik hanya karena banyak orang membicarakannya. Kita mengikuti tren karena takut tertinggal atau merasa harus ikut merasakan hal yang sama. Padahal, sesuatu yang sedang ramai belum tentu benar-benar sesuai dengan apa yang kita butuh atau sukai.
Contohnya sederhana. Ketika sebuah tempat wisata sedang viral, banyak orang datang bukan karena benar-benar ingin menikmati tempat tersebut, melainkan karena ingin mendapatkan foto atau video yang sama seperti yang beredar di media sosial. Akhirnya, pengalaman yang seharusnya personal, justru menjadi sekadar mengikuti pola yang sudah dibuat orang lain.
Begitu juga dengan momen-momen dalam kehidupan. Kita mulai terbiasa mengabadikan semuanya, tetapi lupa untuk benar-benar hadir di dalamnya. Kita punya banyak foto tentang suatu kejadian, tetapi belum tentu punya kenangan yang benar-benar kita rasakan.
Bukan berarti media sosial adalah sesuatu yang buruk. Justru media sosial bisa menjadi tempat untuk berbagi cerita, menyimpan kenangan, dan terhubung dengan banyak orang. Namun, kita perlu tahu kapan harus membagikan dan kapan harus menikmati sesuatu tanpa kamera.
Sumber: Subdepartemen Reportase
Sebab, tidak semua momen membutuhkan penonton. Ada kebahagiaan yang cukup dirasakan sendiri, ada tawa yang tidak perlu direkam, dan ada kenangan yang justru menjadi lebih berharga ketika hanya kita dan orang-orang terdekat yang mengetahuinya.
Pada akhirnya, sebuah momen tidak menjadi berarti karena berapa banyak orang yang melihatnya. Ia berarti karena pernah benar-benar kita rasakan. Jadi, sesekali letakkan ponsel, berhenti mengejar tren, dan izinkan diri sendiri menikmati sesuatu tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun.
Karena mungkin, kenangan terbaik bukanlah yang paling ramai di media sosial, melainkan yang paling lama tinggal di hati. (MFH/MFA)
You may also like
Lagi-Lagi Masalah Datang, Soal Bertahan Indonesia Pemenangnya
Dari Aspirasi ke Aksi: Menanti Kepastian RUU Perampasan Aset
Rekening Tertahan, Hak Terancam? Menimbang Ulang Wewenang Bank di Era Digital
Bumi Kita Makin Panas: Saatnya Berhenti Berkeringat dan Mulai Bertindak
Saat Karhutla Tak Lagi Sekadar Kebakaran


