
Sumber: pixabay.com
Pernahkah kalian merasakan pikiran begitu penuh hingga sulit menentukan perasaan yang sesungguhnya? Di tengah rutinitas yang kian padat, manusia sering kali sibuk menyelesaikan berbagai hal hingga lupa memberikan ruang untuk dirinya sendiri. Berbagai kesibukan mahasiswa, seperti tugas kuliah, kegiatan organisasi, tuntutan akademik, dan rencana masa depan dapat mengakibatkan pikiran makin menumpuk. Dalam kondisi seperti ini, menulis buku harian dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk beristirahat sejenak, mencurahkan isi hati, dan mengurai isi pikiran.
Buku harian identik digunakan sebagai media mencatat agenda saja. Namun, sebenarnya kegunaannya lebih dari itu. Menulis di atas kertas dapat menjadi ruang pribadi untuk menuangkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tanpa perlu memikirkan pandangan orang lain. Di dalam buku harian, individu dapat menuliskan berbagai macam hal, seperti peristiwa yang membuat bahagia, kecewa, khawatir, atau bahkan sekadar menceritakan kegiatan sehari-hari.

Sumber: pixabay.com
Di tengah kehidupan yang makin bergantung pada teknologi dan seluruh aktivitas dilakukan melalui layar, kegiatan menulis secara langsung menggunakan media kertas dan pena dapat memberikan pengalaman yang berbeda. Hal ini memberikan jeda bagi manusia modern dari paparan gawai. Sejenak, tidak ada notifikasi yang membuat kita terdistraksi, tidak ada tuntutan untuk membalas pesan. Hanya ada kita, selembar kertas dan sebuah pena, serta isi hati dan pikiran yang tercurahkan ke dalam tulisan.
Menulis buku harian tidak hanya dilakukan sebagai sarana mencatat perasaan, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri. Ketika seluruh pikiran yang berputar di kepala dituangkan ke dalam tulisan, di kemudian hari, kita dapat memiliki kesempatan untuk melihatnya kembali dengan pikiran yang lebih tenang. Dari menulis, berbagai persoalan dapat dibedah dan dipahami secara lebih teratur, sementara perasaan yang sulit dijelaskan dapat perlahan dikenali.
Dalam konteks literasi, kegiatan membaca dan menulis tidak hanya dilakukan untuk memenuhi tugas atau memperoleh nilai, tetapi juga dapat menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari untuk memahami diri serta lingkungan sekitar. Hal tersebut makin bermakna ketika dikaitkan dengan peringatan Hari Aksara Internasional, hari yang mengingatkan pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan manusia.
Pada akhirnya, buku harian tidak harus berisi tulisan yang panjang dengan bahasa yang indah. Beberapa kalimat sederhana yang ditulis sudah cukup untuk menjadi awal mengenali diri. Sebab, terkadang yang dibutuhkan bukanlah jawaban dari orang lain, melainkan sebuah ruang untuk mengeluarkan apa yang selama ini memenuhi pikiran. (APR/SK)