Setiap akhir September, ingatan bangsa ini diajak pulang ke satu malam yang kelam. Malam 30 September 1965, sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat diculik dari rumahnya dan dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur. Mereka gugur bukan di medan perang melawan penjajah, melainkan dalam pusaran ketegangan politik di negeri sendiri.
Mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen D.I. Panjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean. Ada pula Brigadir Karel Sadsuitubun yang gugur saat bertugas menjaga kediaman Wakil Perdana Menteri, serta Ade Irma Suryani Nasution, putri kecil Jenderal A.H. Nasution yang masih berusia lima tahun. Nama-nama ini bukan sekadar daftar di buku sejarah. Mereka adalah ayah, suami, dan anak bangsa yang gugur demi tugas.
Sumber: pikiran-rakyat.com
Lalu, mengapa kita perlu terus mengenang? Sebab bangsa yang lupa pada lukanya berisiko mengulang kesalahan yang sama. Peristiwa itu mengajarkan bahwa perpecahan, kecurigaan, dan adu kepentingan bisa merobek persatuan dalam sekejap. Karena itu, setiap 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila, pengingat bahwa Pancasila tetap teguh berdiri di atas badai.
Nah, di era media sosial, ancaman itu berganti wajah. Hoaks yang viral, ujaran kebencian, dan polarisasi yang tajam bisa menjadi “lubang buaya” baru bagi persatuan kita. Satu unggahan yang belum tentu benar mampu memantik perselisihan antarsesama. Di sinilah generasi muda ditantang untuk bersikap cerdas: saring sebelum sharing, dialog sebelum berdebat, dan hargai perbedaan sebelum menghakimi.
Sumber: suara.com
Menghormati para Pahlawan Revolusi tidak harus dengan cara yang megah. Kita bisa mulai dari hal sederhana: mempelajari sejarahnya dengan kepala dingin, mengunjungi Monumen Pancasila Sakti dan Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, atau sekadar menolak ikut menyebarkan kabar yang memecah belah. Setiap langkah kecil untuk merawat kerukunan adalah cara kita berterima kasih kepada mereka yang telah gugur.
Pada akhirnya, mengenang bukan berarti terjebak di masa lalu. Mengenang adalah cara kita memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia. Selama kita mau menjaga ingatan dan merajut persatuan, NKRI akan tetap utuh dari Sabang sampai Merauke, dan para pahlawan itu akan tersenyum di sana.(TR/MFA)
You may also like
Menekuni Peristiwa G30S/PKI dan Memastikannya Tidak Terulang Lagi
Di Balik Fenomena Lapas Mewah: Ada Pengawasan yang Perlu Dipertanyakan
Kembalinya Tren Gyaru di Masa Kini
Dari Klub Malam ke Jogging Track: Cara Baru Gen Z dalam Melepas Penat
Tatap Langit, Bukan Layar: Berdiam Sejenak Tanpa Ponsel demi Menyelamatkan Kewarasan


