Sumber: pinterest.com/@ideasssn
Di tengah maraknya tren gaya hidup yang berkembang di media sosial, generasi muda kini mulai lebih memperhatikan cara mereka mengelola keuangan. Kebiasaan membeli barang secara impulsif, menuruti tren sesaat, hingga meniru gaya hidup orang lain kini mulai dipertimbangkan kembali. Salah satu pola hidup yang belakangan banyak dibicarakan adalah frugal living, yaitu gaya hidup hemat dengan lebih mengutamakan kebutuhan daripada sekadar memenuhi keinginan.
Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan Gen Z, terutama mahasiswa yang harus mengatur keuangan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Mulai dari biaya makan, transportasi, keperluan kuliah, hingga kebutuhan pribadi, semuanya memerlukan pengeluaran yang tidak sedikit. Di sisi lain, media sosial terus menghadirkan berbagai tren yang kerap memicu keinginan seseorang untuk ikut memiliki atau mencobanya.
Fenomena frugal living bukan berarti menyiksa diri secara ekstrem dengan menahan segala keinginan atau melarang diri menikmati hidup. Gaya hidup ini lebih mengarah pada kebiasaan menggunakan uang secara bijak. Sebagai contoh, sebelum membeli suatu barang, seseorang akan mempertimbangkan terlebih dahulu apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Selain itu, membandingkan harga, memanfaatkan promo, dan menyisihkan uang untuk tabungan juga menjadi bagian dari kebiasaan ini.
Sumber: pinterest.com/@iencogiada
Kecenderungan untuk hidup lebih hemat juga terlihat dari kebiasaan Gen Z dalam mengelola keuangan. Berdasarkan laporan IDN Research Institute, sebanyak 56 persen Gen Z memilih menerapkan gaya hidup hemat, sementara 60 persen di antaranya memanfaatkan promosi dan diskon untuk menekan pengeluaran. Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak anak muda yang mulai memperhatikan kondisi finansial dan berusaha mengelola keuangan mereka dengan lebih bijak.
Dalam kehidupan mahasiswa, kebiasaan menerapkan frugal living sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal kecil. Contohnya, membawa bekal dari rumah untuk memangkas pengeluaran makan harian, menggunakan transportasi umum untuk menghemat ongkos perjalanan, mengurangi kebiasaan memesan makanan secara online, serta membuat batasan pengeluaran setiap minggu. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan tersebut terbukti efektif menjaga pengeluaran mahasiswa agar tidak mudah membengkak.
Namun, dibalik manfaatnya, menerapkan gaya hidup hemat bukanlah hal yang selalu mudah. Ajakan teman untuk nongkrong, keinginan membeli barang yang sedang viral, hingga berbagai promo di aplikasi belanja sering kali membuat seseorang sulit mengendalikan pengeluaran. Terlebih lagi, melihat kehidupan orang lain di media sosial terkadang menimbulkan dorongan untuk ikut mengikuti hal yang sama. Kondisi ini juga berkaitan dengan istilah FOMO (fear of missing out), yaitu perasaan takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
Meskipun disarankan, gaya hidup hemat tetap perlu dijalankan secara seimbang dan wajar. Jangan sampai keinginan untuk menghemat uang justru membuat seseorang mengabaikan kebutuhan primer, seperti kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari. Memangkas pengeluaran memang langkah yang baik, tetapi bukan berarti segala hal harus dikorbankan demi menabung.
Pada akhirnya, frugal living bukan hanya diukur dari seberapa sedikit uang yang dikeluarkan, melainkan juga dari seberapa bijak seseorang menentukan prioritasnya. Bagi Gen Z, terutama mahasiswa, kebiasaan ini dapat menjadi langkah awal untuk belajar mandiri secara finansial. Sebab, menikmati hidup tidak harus selalu dengan mengikuti tren atau mengeluarkan banyak uang. Terkadang, kemampuan mengatur pengeluaran dan memahami kebutuhan sendiri justru menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. (MFH/SK)
You may also like
Beyond Burning Forests: The Wildfire Threat to Climate Targets and the Air We Breathe
Turning FOMO into Health Goals: The Gen Z Phenomenon of “Pace Hunting” at GBK
MBG Uji Sistem Prasmanan: Makanan Lebih Segar atau Bikin Antrean Makin Panjang?
Biar Waktu yang Bercerita, Kita yang Menjalaninya
The Retro-Revival Phenomenon: When Gen Z’s Cultural Identity Becomes the Aesthetic of the Past

