Beberapa hari belakangan, warga Indonesia dihebohkan dengan desain garuda istana negara ibu kota baru di Kalimantan Timur. Sebelum desain tersebut dihapus oleh Bapak Suharso Manoarfa selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Republik Indonesia, desain istana garuda tersebut didapati oleh netizen dan pihak media yang diposting pada akun Instagram beliau di @suharsomanoarfa.
Dilansir dari CNN.com, desain garuda pada istana negara di ibu kota negara baru tersebut mengundang kontroversi dari gabungan lima ikatan arsitek. Lima ikatan arsitek tersebut diantaranya Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).
Tidak hanya ramai diperbincangkan di kalangan arsitektur, desain ini juga mengundang keresahan mahasiswa yang memahami bagaimana esensi dari sebuah istana negara yang semestinya dibangun. Kali ini, tim redaksi EconoChannel mendapati sejumlah komenan twitter pada sebuah menfess di sebuah base account twitter @collegemenfess yang diunggah pada tanggal 30 Maret. Di sana banyak mahasiswa yang mengungkapkan keresahannya mengenai desain istana garuda tersebut, di antaranya sebuah top comment mengungkapkan bahwa desain istana garuda yang megah tersebut banyak menghabiskan dana yang tidak sedikit. selain itu, desain tersebut juga hanya mengutamakan nilai estetika semata dan bukan mengutamakan nilai fungsional dari sebuah istana negara selayaknya.

Di samping itu, desain tersebut juga tidak menunjukan identitas sebagai bangunan sebuah istana negara, yang mana sebuah istana negara sewajarnya lebih mengedepankan nilai fungsional dan tektonika. Terlepas dari cerminan identitas dari desain istana garuda tersebut, jika dipandang dari keramahan lingkungan dan keamanan, sejumlah mahasiswa arsitek mengemukakan pendapatnya bahwa bagian pada sayap burung garuda yang lebar itu sangat riskan untuk roboh apabila terjadi bencana gempa. Dikarenakan dalam ilmu arsitek, setidaknya memegang 3 nilai dasar asritektur yaitu, firmitas (kekokohan), utilitas (fungsional), dan venustas (keindahan).(EG/TAR)
You may also like
Kesibukan sebagai Validasi: Tekanan Sunyi Mahasiswa Masa Kini
Ketika Side Hustle Menjadi Kewajiban, Bukan Sekadar Pilihan
Penghapusan Program Studi Keguruan: Solusi Ketidaksiapan atau Ancaman bagi Pendidikan?
Menjaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Tantangan: Analisis Kebijakan Suku Bunga 4,75%
Saat Rumah Menjadi Tempat Kerja: Urgensi Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
