Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi kemunculan sebuah penyakit baru yang bernama virus Marburg. Virus ini mirip dengan Ebola, dengan intensitas penularan yang tinggi dan dapat menyebabkan kematian pada seseorang. Virus Marburg ini pertama kali ditemukan di negara Afrika.
WHO mengatakan telah dilakukan pengambilan sampel darah dari dua orang yang berada di wilayah Ashanti Selatan, Ghana, dan menunjukkan mereka berdua memiliki virus Marburg. WHO melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait masalah virus Marburg ini. Terkait masalah ini, Layanan Kesehatan Ghana (GHS), menyatakan bahwa virus Marburg ini bukanlah sebuah virus baru. Virus Marburg pernah muncul secara sporadis di Angola, Republik Demokratik Kango, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda, tetapi dinyatakan berakhir di tahun 2021.

Virus Marburg merupakan wabah penyakit yang sebenarnya jarang terjadi. Penyakit ini sama dengan penyakit demam berdarah dan penyakit Ebola yang dapat mematikan. Virus Marburg sendiri biasanya diawali, seperti penyakit tropis. Untuk gejala virus Marburg sendiri antara lain, yaitu demam, sakit badan dan kepala, lesu, hingga ruam pada area tubuh tertentu. Jika dilihat dari beberapa kasus, gejala yang muncul dari virus Marburg sekitar satu minggu (5 hingga 10 hari) setelah seseorang terinfeksi oleh virus tersebut.
Hal yang perlu diwaspadai, yaitu penyakit virus Marburg sering kali dapat berakibat fatal karena efek jangka panjang dari penyakit virus Marburg ini tidak banyak diketahui seperti virus lainnya. Hal ini penyebabnya karena tingkat kematian yang tinggi di beberapa wabah dan kelangkaan sebuah penyakit. Komplikasi yang dapat membahayakan untuk tubuh akibat virus Marburg, yaitu berupa mialgia, arthralgia, hepatitis, asthenia, penyakit, dan psikotis.
Saat ini, belum ditemukan obat ataupun vaksin untuk menyembuhkan virus Marburg. Hal yang harus dilakukan saat ini adalah dengan cara mencegahnya. Tanpa adanya pilihan pengobatan yang benar-benar efektif, cara paling efektif untuk melindungi diri dari penyakit virus Marburg, yaitu mencegahnya dengan beberapa metode, antara lain menggunakan alat pelindung diri serta menghindari hewan yang mungkin membawa virus.
(ANS/RAH)
You may also like
Ancol dan PRJ: Tempat Liburan Alternatif yang Diminati Berbagai Kalangan
Saat Rupiah Menanjak, Kabar Baik atau Sekadar Euforia Pasar?
Mahasiswa Turun ke Jalan, Akankah Kebijakan Pemerintah Berubah
Dari Kampus ke Jalanan: Mahasiswa UI dan UNJ Menagih Respons Pemerintah
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,5%, Cukupkah untuk Menjinakkan Rupiah?
