Apa yang Dicari Manusia di Balik Kesibukan dan Rasa Lelah?

Sumber: yoursay.suara.com

Di tengah arus globalisasi yang berkembang pesat, manusia dituntut untuk terus bergerak agar tidak tertinggal. Kegiatan dimulai dengan bangun pagi, bekerja, menyelesaikan tanggung jawab di kantor, hingga pulang ke rumah untuk beristirahat, lalu mengulangnya keesokan harinya. Semua itu dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Orang yang sibuk dianggap sebagai pekerja keras, sementara rasa lelah sering kali diabaikan dan tidak dianggap sebagai bagian dari perjuangan.

 Waktu tidur yang terus berkurang kerap dijadikan tolok ukur produktivitas. Tubuh yang lelah dan pikiran yang dipenuhi tanggung jawab telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Data dari Organisasi Buruh Internasional menunjukkan bahwa lebih dari 400 juta pekerja di dunia bekerja selama 49 jam atau lebih per minggu.

Hal ini tidak hanya dialami oleh para pekerja, tetapi juga oleh banyak mahasiswa. Mereka berambisi untuk selalu produktif dalam mengejar tugas, nilai, kegiatan organisasi, kepanitiaan, magang, hingga perlombaan. Muncul perasaan takut tertinggal ketika melihat orang lain lebih aktif dan berprestasi sehingga kuliah tidak lagi menjadi tempat belajar, melainkan ajang perlombaan yang menguras tenaga dan pikiran.

Sumber: bbc.com

Sebuah studi pada tahun 2016 menemukan bahwa kadar kortisol, yakni hormon yang berperan dalam merespons stres, meningkat lebih cepat pada pagi hari pada orang-orang yang harus selalu siap dihubungi dibandingkan dengan mereka yang tidak harus siap bekerja kapan saja. Ambisi merupakan hal yang perlu dimiliki setiap orang. Namun, ambisi yang berlebihan dapat meningkatkan stres, menurunkan kondisi kesehatan, dan menimbulkan penyakit fisik. Hal ini makin berbahaya apabila nilai diri seseorang hanya diukur dari pencapaian yang menimbulkan rasa tidak pernah cukup serta membuat seseorang sulit menikmati proses kehidupan yang sedang dijalani.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak target atau prestasi yang diraih, melainkan juga tentang bagaimana seseorang tetap mampu menjaga diri, menikmati proses, dan tidak kehilangan jati diri. Kesehatan fisik dan mental juga perlu dijaga agar seseorang dapat menjalani aktivitas secara seimbang dan berkelanjutan. Hidup tidak hanya untuk mengejar uang, nilai, prestasi, atau pengakuan, melainkan juga memperoleh rasa aman, ketenangan, dan kebahagiaan.

Oleh  karena itu, ketika rasa lelah mulai datang, perlu ada jeda sejenak untuk bertanya apakah semua yang sedang dikejar benar-benar membawa kehidupan ke arah yang lebih baik. Manusia boleh terus berjalan, tetapi tidak boleh kehilangan arah. Sebab, yang terpenting bukan hanya mencapai tujuan, melainkan juga tetap menjadi pribadi yang utuh ketika mencapainya. (NFA/NDC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *