Awal Bulan Lega, Akhir Bulan Cemas: Ritme Kehidupan Mahasiswa yang Dikendalikan Harga

Sumber: Republika Blogger

Suara notifikasi transfer setiap tanggal satu menandakan saldo akan bertambah dan membuat segalanya terasa lebih baik, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan. Bagi mahasiswa, awal bulan merupakan momen yang paling dinantikan. Namun, belakangan ini terasa makin berat dikarenakan kiriman orang tua yang dulunya cukup untuk sebulan penuh, kini hanya bertahan hingga minggu ketiga atau bahkan kurang. Biaya hidup terus meningkat lebih cepat daripada perhitungan anggaran mahasiswa. Bukan hanya disebabkan perilaku konsumtif dan perubahan gaya hidup mahasiswa, melainkan juga disebabkan oleh harga kebutuhan pokok yang terus naik.

Bayangkan seorang mahasiswa yang setiap bulannya dengan teliti menyusun anggaran bulanan meliputi biaya makanan, transportasi, hingga keperluan tugas dengan rapi. Namun,  ketika ingin membeli makanan di kantin langganannya, porsi makanan yang biasa ia beli justru mengecil, bahkan harganya makin mahal. Meskipun perbedaan biaya terlihat kecil, jika dikalikan tiga kali makan dalam sehari dengan kurun waktu sebulan, jumlahnya akan menggerus anggaran bulanan secara signifikan. Dalam istilah ekonomi, kondisi ini disebut sebagai tekanan inflasi kumulatif, yakni akumulasi pengeluaran kecil yang terus-menerus mengikis daya beli. Bagi mahasiswa yang hanya menerima kiriman bulanan yang tetap, tekanan ini tentu terasa sangat berat.

Sumber: krajan.id

Hal yang lebih penting dari lonjakan biaya hidup adalah strategi mahasiswa dalam bertahan hidup. Banyak yang mulai mengurangi frekuensi makan, yang awalnya tiga kali sehari menjadi dua kali sehari, bahkan beralih ke pilihan makanan yang lebih murah. Di samping itu, mahasiswa juga terpaksa mengurangi anggaran untuk keperluan kuliah. Meskipun demikian, adaptasi ini berlangsung secara tenang tanpa keluhan atau demonstrasi. Mahasiswa menyesuaikan diri seperti air yang mencari celah, karena di permukaannya tampak tenang, tetapi di bawahnya terdapat arus yang deras. Di sinilah letak bahayanya, para pendiri kebijakan kerap kali mengabaikan penderitaan yang tidak terlihat.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), akibat faktor musim, jalur distribusi, dan dinamika global, makanan seperti beras, telur, dan minyak goreng menjadi penyumbang inflasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, program beasiswa yang diharapkan dapat membantu masih sangat terbatas, dengan persyaratan administrasi yang rumit dan kuota yang terbatas sehingga menghalangi banyak mahasiswa yang secara akademis layak mendapatkan bantuan. Akibatnya, sistem yang seharusnya memberikan perlindungan sosial justru gagal menjangkau mahasiswa yang paling rentan secara ekonomi.

Siklus awal bulan yang tenang dan akhir bulan yang tertekan ini bukan hanya masalah manajemen keuangan pribadi, melainkan juga cerminan dari sistem pendukung yang kurang memadai bagi mahasiswa di tengah ketidakpastian ekonomi di Indonesia. Mahasiswa tidak meminta belas kasihan, mereka membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada mereka, seperti stabilitas harga kebutuhan pokok dan ketersediaan pangan terjangkau yang lebih merata di sekitar kampus. Tekanan finansial yang dialami mahasiswa adalah persoalan struktural yang tidak boleh diabaikan oleh para pemangku kebijakan. Pada akhirnya, perjuangan mahasiswa itu nyata, meski tidak pernah tercatat dalam transkrip nilai mana pun. (JRM/SK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *