Pernahkah kalian, saat scroll media sosial lalu menemukan kolom komentar yang dipenuhi perdebatan? Ada yang saling menyindir, saling menjatuhkan, bahkan saling menghina hanya karena berbeda pandangan. Ironisnya, semua itu terjadi di negara yang sejak dini mengajarkan nilai persatuan dan gotong royong.
Setiap tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Timeline media sosial dipenuhi dengan ucapan selamat, poster Garuda, dan kutipan tentang nasionalisme. Tapi setelah peringatan tersebut berlalu, pertanyaannya sederhana, apakah Pancasila masih hidup dalam keseharian kita atau hanya muncul setahun sekali lalu menghilang lagi?
Sumber: bpip.go.id.
Bagi sebagian generasi muda, Pancasila mungkin terasa seperti materi pelajaran yang dulu wajib dihafal untuk ujian. Lima sila beserta lambangnya dipelajari, lalu selesai. Padahal, jika dipikir-pikir, Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saat kita menghargai teman yang berbeda suku, agama, atau latar belakang, itulah wujud Pancasila. Saat membantu teman yang mengalami kesulitan tanpa mengharapkan imbalan, itu juga Pancasila. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, kita sedang mempraktikkan nilai-nilai Pancasila.
Sumber: Dreamface
Masalahnya, kehidupan digital saat ini sering kali membuat nilai-nilai tersebut terasa makin jauh. Algoritma media sosial membuat kita lebih sering berinteraksi dengan orang-orang yang sepemikiran. Akibatnya, ketika menemukan pendapat berbeda, sebagian orang langsung menyerang tanpa mencoba memahami. Ruang diskusi berubah menjadi arena pertarungan. Kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan malah berubah menjadi tempat adu emosi.
Selain itu, maraknya hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, hingga budaya saling menghakimi.itu menunjukkan bahwa tantangan menjaga persatuan saat ini tidak lagi hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital yang kita akses hampir setiap saat.
Namun, di sinilah Pancasila menjadi makin relevan. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh perbedaan, Pancasila hadir sebagai pengingat bahwa kita tetap satu bangsa. Bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan. Bahwa kebebasan berpendapat tidak harus menghilangkan rasa hormat kepada orang lain.
Menjadi generasi yang mencintai Pancasila bukan berarti harus selalu berbicara tentang nasionalisme. Terkadang hal sederhana seperti menghargai perbedaan, berpikir kritis sebelum membagikan informasi, dan menjaga etika dalam bermedia sosial sudah menjadi bentuk nyata pengamalan Pancasila.
Hari Lahir Pancasila bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momen untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak?
Pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi ditentukan oleh seberapa jauh kita berani mempraktikkannya. Mungkin, pertanyaan terbesar untuk generasi kita saat ini bukan lagi “Apa itu Pancasila?”, melainkan “Masihkah kita hidup sesuai dengan nilai-nilainya?”(SAP/NFA)
You may also like
Panggung Ilusi Digital: Seni Menguras Energi Demi Kompetisi Semu di Media Sosial
Deepfake dan Tantangan Keamanan Siber di Era Artificial Intelligence
Reformasi Polri: Dari Rekomendasi Menjadi Undang-Undang
Ekonomi Hijau dan Energi Terbarukan: Penggerak Ekonomi Masa Depan dan Dilema Strukturalnya
Makan Bergizi Gratis: Solusi Masa Depan atau Beban Anggaran Negara?


