
Sumber: rri.co.id
Memasuki bulan Agustus, suasana di berbagai sudut Indonesia mulai berubah. Bendera Merah Putih dipasang di depan rumah, umbul-umbul menghiasi jalan, gapura mulai dipercantik, dan warga mulai sibuk mempersiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Ada yang mengecat lingkungan, ada yang membersihkan kampung, dan tidak sedikit pula yang mulai memikirkan hadiah untuk lomba 17-an.
Semua dilakukan dengan satu semangat yang sama: merayakan kemerdekaan. Namun, di tengah suasana yang penuh warna merah putih tersebut, ada satu hal yang cukup menarik untuk direnungkan. Bagaimana jika di negeri yang sedang bersiap merayakan kemerdekaannya, sebagian rakyat justru merasa bahwa mereka tidak boleh mengeluhkan keadaan negaranya?

Sumber: jateng.antaranews.com
Pertanyaan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa masyarakat yang merasa Indonesia sedang berada dalam kondisi suram dipersilakan mencari negara lain. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam peringatan Hari Koperasi Nasional pada Juli 2026, saat menanggapi pandangan pesimistis masyarakat terhadap kondisi di Indonesia.
Kalimat tersebut tentu dapat dipahami sebagai bentuk dorongan agar masyarakat tidak kehilangan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Pemerintah memang membutuhkan dukungan dan kepercayaan masyarakat untuk menjalankan berbagai program pembangunan. Akan tetapi, jika direnungkan lebih jauh, apakah orang yang mengeluh tentang rumahnya otomatis ingin pindah rumah?
Seorang anak yang mengatakan rumahnya bocor tentu tidak sedang meminta rumah baru. Ia mungkin hanya ingin atapnya diperbaiki. Begitu pula dengan masyarakat. Ketika rakyat mengeluhkan mahalnya harga kebutuhan, sulitnya mendapatkan pekerjaan, tingginya biaya pendidikan, atau beratnya kondisi ekonomi, bukan berarti mereka sedang mencari tiket pesawat untuk meninggalkan Indonesia. Bisa jadi, mereka justru sedang menyampaikan bahwa ada bagian dari “rumah”-nya yang perlu diperbaiki.
Apalagi, menjelang 17 Agustus, masyarakat kembali diajak memasang bendera sebagai simbol kecintaan kepada tanah air. Ironisnya, bendera Merah Putih diminta dikibarkan setinggi mungkin, tetapi rakyat yang mengkritik keadaan malah diminta mencari negara lain.
Lalu, untuk apa kemerdekaan diperjuangkan? Kemerdekaan seharusnya tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kemerdekaan juga berarti memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, dan mengharapkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus mempertanyakan kembali status kita sebagai bagian dari bangsa ini.
Kritik justru menunjukkan bahwa masih ada kepedulian. Orang yang benar-benar tidak peduli mungkin tidak akan repot-repot mengkritik. Mereka tidak akan sibuk memikirkan harga kebutuhan, lapangan pekerjaan, pendidikan, ataupun masa depan negara ini. Ketika seseorang masih mengeluh dan mempertanyakan keadaan Indonesia, mungkin sebenarnya ada harapan yang sedang ia titipkan: “Tolong, buat negeri ini menjadi lebih baik.”
Untuk itu, persiapan menyambut kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada pemasangan bendera, pengecatan gapura, atau persiapan lomba panjat pinang. Ada semangat yang jauh lebih penting untuk dipersiapkan, yaitu semangat untuk membangun Indonesia yang membuat rakyatnya merasa nyaman tinggal di rumah sendiri.

Sumber: radarbanyumas.disway.id
Pemerintah tentu boleh optimistis, rakyat juga boleh berharap, tetapi keduanya tidak seharusnya saling meniadakan. Optimisme tanpa kritik bisa membuat masalah tidak terlihat, sementara kritik tanpa harapan juga tidak akan membawa perubahan.
Maka, ketika bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali makna kemerdekaan. Indonesia bukan sekadar wilayah yang harus dicintai, melainkan juga rumah yang harus terus dijaga dan diperbaiki.
Kalau ada rakyat yang berkata rumahnya terasa makin gelap, mungkin tidak perlu langsung menyuruhnya mencari rumah baru. Barangkali, yang dibutuhkan hanyalah menyalakan lampunya. Sebab setelah 81 tahun merdeka, rasanya rakyat Indonesia tidak sedang mencari negara lain untuk ditempati. Mereka hanya ingin Indonesia menjadi tempat yang layak untuk pulang. (RHM/MFA)