Satu Dunia, Sejuta Versi Kebenaran

Sumber: unil.com

Di era saat ini, mencari informasi rasanya sudah tidak perlu susah-susah. Cukup buka TikTok, Instagram, atau X, kita sudah bisa tahu apa yang sedang ramai dibicarakan. Bahkan, kadang kita mengetahui sebuah kejadian pertama kali dari media sosial, bukan dari portal berita. Mulai dari berita tentang selebritas, kejadian di sekitar kita, sampai isu yang sedang hangat diperbincangkan, semuanya bisa muncul dalam satu timeline yang sama.

Masalahnya, makin mudah informasi dibuat, makin banyak pula versi yang kita temukan.

Satu kejadian bisa diceritakan dengan cara yang berbeda oleh banyak akun. Ada yang mengunggah video lengkap, ada yang hanya mengambil potongan beberapa detik, dan ada juga yang menambahkan pendapat pribadi seolah-olah itu merupakan bagian dari fakta. Belum lagi jika informasi tersebut sudah dibagikan berulang kali. Kadang, kita bahkan sudah lupa siapa yang pertama kali menyebarkannya.

Hal tersebut sebenarnya sering terjadi tanpa kita sadari. Saat melihat sebuah video dengan jutaan views, ribuan likes, dan kolom komentar yang ramai, kita cenderung lebih mudah percaya. Apalagi kalau informasi yang sama muncul berulang kali di timeline. Rasanya seperti “Kalau banyak yang membahas, berarti benar, kan?”

Padahal, belum tentu. Sekarang, siapa pun bisa menjadi pembuat informasi. Tidak perlu menjadi jurnalis atau bekerja di media. Selama punya ponsel dan akses internet, kita bisa mengambil foto, merekam video, menulis sesuatu, lalu membagikannya kepada banyak orang dalam hitungan detik. Tentunya, hal ini tidak selalu buruk. Justru, kita bisa mendapatkan informasi dengan lebih cepat, bahkan langsung dari orang yang berada di lokasi kejadian.

Akan tetapi, kecepatan juga bisa menjadi masalah kalau kita lebih sibuk menjadi yang pertama membagikan daripada memastikan bahwa apa yang kita bagikan benar.

Belum lagi, sekarang ada AI. Foto bisa dibuat atau diubah, suara bisa ditiru, dan video pun dapat terlihat sangat meyakinkan. Hal-hal yang dulu mungkin langsung kita anggap sebagai bukti sekarang perlu dilihat dengan lebih hati-hati. Sekadar mengatakan “Ada videonya, kok,” rasanya sudah tidak cukup untuk memastikan bahwa sebuah informasi benar.

Sumber: ebc.com

Jadi, sebenarnya siapa yang menjamin kebenaran dari semua informasi yang kita lihat?

Media dan jurnalis tentu memiliki peran untuk memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Platform media sosial juga bertanggung jawab atas konten yang beredar. Akan tetapi, rasanya kurang tepat jika seluruh tanggung jawab hanya diberikan kepada mereka. Kita sebagai pengguna juga ikut menentukan informasi mana yang akan berhenti dan mana yang akan terus menyebar.

Tidak harus melakukan pengecekan yang rumit. Kadang, cukup dengan melihat siapa yang mengunggahnya, membaca informasi secara lengkap, mencari sumber awal, atau membandingkannya dengan berita lain. Dan jika masih ragu, kita selalu punya pilihan untuk tidak langsung menekan tombol share.

Karena mungkin kita memang tidak bisa mengontrol jutaan informasi yang dibuat setiap hari. Namun, kita masih bisa mengontrol satu hal: apa yang kita pilih untuk percaya dan apa yang kita pilih untuk disebarkan. (ZR/NDC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *