Tren fashion terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Gaya yang pernah populer pada masa lalu bisa saja perlahan ditinggalkan dan kemudian muncul kembali ketika generasi baru mulai tertarik menggunakannya. Salah satunya adalah gyaru, estetika asal Jepang yang dikenal dengan penampilan berani dan ekspresif.

Sumber: kamicrew.com
Gyaru mulai berkembang di Jepang sekitar tahun 1990-an. Istilah gyaru berasal dari kata gal dalam bahasa Inggris yang merujuk pada perempuan muda. Pada masa perkembangannya, gyaru memiliki ciri khas berupa rambut yang ditata dengan volume besar, riasan mata yang tegas, bulu mata yang tampak menonjol, kuku yang dihias, serta pakaian dan aksesori yang mencolok. Gaya ini kemudian berkembang menjadi berbagai subgaya dengan karakteristik yang berbeda, seperti ganguro, hime gyaru, dan onee gyaru.
Lebih dari sekadar penampilan, gyaru menjadi salah satu bentuk ekspresi diri anak muda di Jepang. Penggunanya berani tampil berbeda dari standar kecantikan yang lebih sederhana pada saat itu. Penampilan yang mencolok justru menjadi bagian penting dari identitas gyaru. Popularitasnya juga meningkat melalui majalah fashion dan budaya anak muda sehingga gaya tersebut makin dikenal secara luas.
Namun, popularitas gyaru mulai menurun pada tahun 2010-an. Tren kecantikan yang lebih natural dan sederhana makin diminati. Perubahan tren tersebut membuat tampilan khas gyaru yang penuh riasan, aksesori, dan warna-warna mencolok tidak lagi populer seperti sebelumnya. Meskipun begitu, gaya ini tidak benar-benar menghilang.
Dalam beberapa tahun terakhir, elemen gyaru kembali muncul dalam berbagai tren fashion dan kecantikan. Media sosial, seperti TikTok, Instagram, dan Pinterest turut membantu generasi muda menemukan kembali berbagai gaya dari masa lalu. Konten mengenai makeup, fashion, hingga transformasi penampilan membuat estetika gyaru kembali mendapatkan perhatian.

Sumber: Instagram
Kebangkitan gyaru saat ini juga tidak selalu ditandai dengan penerapan gaya tersebut secara keseluruhan. Banyak orang hanya mengambil beberapa elemennya dan menyesuaikannya dengan tren masa kini. Elemen yang dipilih, seperti penggunaan bulu mata yang dramatis, riasan mata yang tegas, rambut bervolume, aksesori berukuran besar, serta pakaian dengan warna dan motif yang lebih berani. Dengan cara tersebut, gyaru dapat terlihat lebih modern tanpa kehilangan karakter utamanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan fashion tidak selalu berjalan lurus. Tren lama dapat kembali populer ketika dianggap menarik oleh generasi baru. Media sosial juga membuat proses tersebut makin cepat karena berbagai referensi dari masa lalu dapat ditemukan dan dibagikan dengan mudah. Gaya yang sebelumnya hanya dikenal melalui majalah atau komunitas tertentu kini dapat diakses oleh siapa saja melalui internet.
Kembalinya gyaru juga memperlihatkan bagaimana sebuah gaya dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Generasi sekarang tidak harus menerapkan gyaru dengan cara yang sama seperti generasi pada tahun 1990-an atau 2000-an. Mereka dapat mengambil elemen yang dianggap sesuai dengan karakter dan gaya masing-masing. (ZK/NFA)
You may also like
Dari Klub Malam ke Jogging Track: Cara Baru Gen Z dalam Melepas Penat
Tatap Langit, Bukan Layar: Berdiam Sejenak Tanpa Ponsel demi Menyelamatkan Kewarasan
Membangun Masa Depan Anak-Anak di Timur Tak Hanya dari Sepiring Makanan
Baca Situasi, Bukan Asumsi
Satu Telepon, Selesai Sebuah Jabatan: Ketika Pergantian Datang di Tengah Rapat