Tidak sedikit investor pemula yang masuk ke pasar saham dengan ekspektasi tinggi akan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Sayangnya, harapan tersebut sering kali dibangun di atas euforia sesaat dan rekomendasi yang belum tentu valid. Banyak investor pemula membeli saham secara implusif tanpa memahami nilai dan kinerja perusahaannya terlebih dahulu. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO saham, yaitu rasa takut ketinggalan peluang yang terlihat menguntungkan, tetapi sesungguhnya menyimpan risiko besar di baliknya.
Apa Itu FOMO?
Fear of missing out (FOMO) merupakan ketakutan seseorang akan tertinggal dalam segala hal. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013. Fenomena ini sering kali membuat seseorang rela mengeluarkan uangnya dalam jumlah besar tanpa pertimbangan sehingga cenderung memberikan dampak buruk pada finansial.
Mengapa Investor Pemula Rentan Terkena FOMO?
Bagi seseorang yang baru pertama kali terjun ke dunia saham, yang terlintas di pikirannya hanyalah cara memperoleh keuntungan besar secara instan. Namun, pola pikir tersebut sebenarnya merupakan pola pikir yang salah karena investasi merupakan aset jangka panjang, bukan ladang keuntungan instan. Selain itu, faktor media sosial dan lingkungan turut mendukung jebakan FOMO saham. Seperti yang kita tahu, pengaruh media sosial sangat besar dalam memengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan. Konten-konten mengenai saham di media sosial sering kali menampilkan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa diiringi dengan edukasi sehingga menciptakan ilusi bahwa investasi saham itu mudah dan minim kerugian.
Sumber: Kompas Money
Dampak FOMO Saham bagi Investor Pemula.
- Membeli Saham di Harga Puncak
Ketika suatu saham sedang viral biasanya harga akan berada di puncak. Investor pemula cenderung ikut membeli saham pada saat itu, padahal di sisi lain, para investor besar justru menjualnya (profit taking). Akibatnya, harga saham menjadi turun drastis.
- Investasi Tanpa Strategi
Karena ikut-ikutan, investor tidak tahu kapan harus menjual saham dan batas minimum kerugian yang masih dapat ditoleransi.
- Pengambilan Keputusan Berdasarkan Emosi
FOMO mendorong investor bertindak gegabah. Ketika harga naik, mereka akan menjadi terlalu optimis dan mengabaikan risiko.
- Kerugian Finansial
Pengambilan keputusan tanpa didasari analisis yang kuat, berpotensi menciptakan kerugian berupa hilangnya modal, meningkatnya biaya transaksi, dan terbuangnya peluang investasi yang lebih stabil.
Oleh karena itu, bagi kalian yang ingin menjadi investor pemula pastikan lakukan analisis sebelum membeli, yaitu dengan mempelajari bisnis dan laporan keuangan perusahaan, tentukan tujuan investasi, apakah jangka pendek, menengah, atau panjang, serta tentukan batas kerugian yang dapat ditolerir. Pada akhirnya, investasi bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, melainkan siapa yang paling cermat dalam mengelola risiko.(NVN/SYN)

