Press Release: September Hitam: Catatan Kekerasan oleh Negara

Sumber: Reportase

Pada hari Kamis, 24 September 2026, pukul 15.00 WIB, mahasiswa yang tergabung dalam gerakan September Hitam menyelenggarakan aksi damai berupa orasi, aksi simbolik, dan pembacaan pernyataan sikap yang dipusatkan di Plaza Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Aksi ini diselenggarakan sebagai bentuk peringatan atas rangkaian panjang tindakan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan oleh aparatur negara, sekaligus bentuk desakan agar praktik impunitas tidak terus dibiarkan berulang tanpa penyelesaian hukum yang jelas.

Bulan September dipilih sebagai momentum aksi karena mencatat sejumlah peristiwa kelam yang berulang dari tahun ke tahun, di antaranya peristiwa 1965-1966, Tragedi Tanjung Priok 1984, Tragedi Semanggi II 1999, pembunuhan aktivis HAM Munir pada 2004, pembunuhan Salim Kancil pada 2016, penembakan terhadap Rendi dan Yusuf pada 2020, serta kekerasan aparat dalam gerakan Reformasi Dikorupsi pada 2019. Rangkaian peristiwa tersebut menegaskan bahwa kekerasan negara dan lemahnya penegakan hukum bukan semata persoalan masa lalu, melainkan pola struktural yang terus berulang hingga saat ini, termasuk dalam peristiwa kerusuhan Agustus-September 2025 yang hingga kini masih dalam proses pencarian fakta oleh Komnas HAM.

Aksi September Hitam di Plaza UNJ terdiri atas tiga rangkaian kegiatan utama.

  1. Orasi, yaitu penyampaian aspirasi dan sikap kritis oleh perwakilan mahasiswa terkait catatan panjang kekerasan negara serta minimnya penegakan keadilan bagi para korban dan keluarganya.
  2. Aksi simbolik, yaitu penggunaan pakaian serba hitam oleh seluruh peserta aksi sebagai simbol duka sekaligus bentuk protes atas kegagalan negara dalam menjamin rasa aman bagi warganya.
  3. Pembacaan pernyataan sikap, yaitu penyampaian tuntutan resmi mahasiswa kepada negara agar melakukan pengusutan tuntas terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM, baik yang telah berlangsung lama maupun yang masih dalam proses penanganan, serta menjamin perlindungan atas kebebasan berpendapat dan berekspresi bagi seluruh warga sipil.

Melalui aksi ini, mahasiswa menegaskan bahwa upaya mengenang bukanlah tujuan akhir dari gerakan ini, melainkan sarana untuk mendorong perbaikan sistem hukum dan penegakan HAM yang selama ini dinilai belum mampu memberikan rasa aman dan keadilan yang layak bagi masyarakat.

Sumber: Reportase

Tanggapan Peserta Aksi

Nazmi, salah satu mahasiswa yang mengikuti aksi, menilai bahwa keberadaan seruan aksi September Hitam di lingkungan kampus merupakan hal yang penting untuk terus digaungkan. Menurutnya, kampus semestinya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan sikap kritis, bukan sekadar tempat menempuh pendidikan formal semata. Ia menambahkan bahwa aksi ini menjadi pengingat penting agar kasus-kasus, seperti Munir, Tragedi Semanggi, hingga peristiwa kerusuhan Agustus–September 2025 tidak hanya berlalu sebagai pemberitaan sesaat tanpa penyelesaian yang jelas.

Nazmi berharap aksi September Hitam tidak berhenti hanya pada momen orasi di lapangan. Menurutnya, kegiatan ini perlu menjadi pemantik kesadaran bagi mahasiswa lain agar lebih peduli terhadap isu HAM dan tidak bersikap apatis terhadap persoalan bangsa. Ia juga berharap negara benar-benar mendengarkan aspirasi yang disampaikan mahasiswa, bukan kembali mengabaikannya sebagaimana yang terjadi pada kasus-kasus sebelumnya.

Pandangan lain disampaikan oleh Kia, yang mengaku awalnya hadir dalam aksi ini sebagai bentuk solidaritas semata. Namun, setelah mempelajari lebih jauh mengenai sejarah dan konteks di balik aksi September Hitam, ia menyadari bahwa persoalan ini bukan hanya menyangkut masa lalu, melainkan juga menyangkut generasi saat ini yang turut merasakan dampak dari lemahnya jaminan keamanan oleh negara.

Kia menuturkan bahwa keputusannya untuk berpartisipasi didasari atas keyakinan bahwa diam sama artinya dengan membiarkan peristiwa serupa terus terulang di kemudian hari. Menurutnya, melalui aksi sekecil apa pun, mahasiswa tetap memiliki peran untuk menyatakan penolakan terhadap upaya melupakan sejarah kelam bangsa.

Harapan ke Depan

Melalui rangkaian aksi September Hitam ini, mahasiswa berharap negara dapat menunjukkan komitmen yang nyata dalam mengusut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM, baik yang telah berlangsung puluhan tahun maupun yang masih dalam proses penanganan, tanpa terkecuali. Mahasiswa juga berharap agar peristiwa kerusuhan Agustus–September 2025 dapat diselesaikan secara transparan dan akuntabel sehingga proses pencarian fakta yang tengah dilakukan Komnas HAM tidak berhenti di tengah jalan.

Lebih jauh, mahasiswa berharap aksi ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif di kalangan civitas academica untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan bangsa, serta mendorong lahirnya ruang-ruang diskusi dan advokasi HAM yang berkelanjutan di lingkungan kampus. Yang terpenting, mahasiswa berharap negara dapat hadir sebagai pelindung, bukan sumber ancaman bagi rasa aman, kebebasan berpendapat, dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. (DAP/MFA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *