Ketika Like Menjadi Nilai Diri: Generasi di Bawah Kendali Algoritma

Sumber: suratdokter.com

Media sosial kini telah menjadi bagian penting bagi kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda. Platform digital, seperti Instagram, TikTok, Facebook, X, dan lainnya tidak lagi sekadar tempat berbagi foto atau cerita, tetapi juga menjadi ruang untuk mencari pengakuan atau validasi dari banyak orang. Sebagian besar orang merasa senang ketika unggahan mereka mendapatkan banyak suka atau like, komentar, atau dibagikan oleh orang lain. Tanpa disadari, sebagian besar orang mulai hidup untuk mengejar pujian di dunia maya.

Salah satu penyebabnya adalah peran “algoritma media sosial”. Algoritma ini dirancang untuk menampilkan konten yang dianggap paling menarik bagi penggunanya, makin banyak interaksi yang diterima sebuah konten, makin besar pula kemungkinan konten tersebut akan muncul di beranda orang lain. Hal ini membuat banyak pengguna terdorong untuk mengikuti tren, membuat konten viral, atau menampilkan hal-hal yang menarik perhatian agar mendapatkan lebih banyak respons dan like sehingga mendapatkan kesenangan dari hal tersebut.

Sumber: darya-varia.com

Akibatnya, pujian digital, seperti like dan komentar sering kali menjadi tolok ukur kepuasan seseorang saat menggunakan media sosial. Ketika unggahan yang diunggah mendapatkan banyak respons atau komentar, seseorang merasa dirinya dihargai. Namun, sebaliknya, jika respon yang diterima sedikit, rasa kecewa atau tidak percaya diri dapat muncul dan terkadang berpengaruh dalam kehidupan nyata. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat seseorang menilai dirinya hanya berdasarkan angka yang didapatkannya di layar.

Selain itu, media sosial sering kali menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna. Foto yang rapi, gaya hidup menarik dan mewah, serta momen bahagia yang terkadang membuat beberapa orang merasa hidupnya kurang menarik dan sering kali merasa insecure. Perbandingan sosial yang drastis ini dapat memicu tekanan bagi seseorang agar selalu terlihat menarik dan “sempurna” di dunia digital yang terkadang dapat membuat seseorang rela melakukan apa saja demi mendapatkan hal tersebut.

Pujian maya membuat kita merasa eksis dan dihargai, tetapi tidak serta-merta membuat kita bahagia. Saat layar mati dan pemberitahuan berhenti, yang tersisa hanyalah keheningan dan pertanyaan yang tidak nyaman: “Apakah aku berarti, atau kontenku yang berarti?”

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hidup untuk algoritma dan validasi semata di dunia maya, dan mulai hidup untuk diri kita sendiri bahkan ketika tidak ada satu pun yang menekan tombol suka. (LDS/NDC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *